Pesona Jiwa Raga

3 11 2011

Pada mulanya adalah fisik. Seterusnya adalah budi. Raga menantikan pandanganmu. Jiwa membangun simpatimu. Badan mengeluarkan gelombang magnetiknya. Jiwa meniupkan kebajikannya.

Begitulah cinta tersurat di langit kebenaran. Bahwa karena cinta jiwa harus selalu berujung dengan sentuhan fisik, maka ia berdiri dalam tarikan dua pesona itu: jiwa dan raga.Tapi selalu ada bias disini. Ketika ketertarikan fisik disebut cinta tapi kemudian kandas ditengah jalan. Atau ketika cinta tulus pada kebajikan jiwa tak tumbuh berkembang sampai waktu yang lama. Bias dalam jiwa ini terjadi karena ia selalu merupakan senyawa spritualitas dan libido. Kebajikan jiwa merupakan udara yang memberi kita nafas kehidupan yang panjang. Tapi pesona fisik adalah sumbu yang senantiasa menyalakan hasrat asmara.
Read the rest of this entry »
Advertisements




Mengelola Ketidaksempurnaan

13 10 2009

oleh: M. Anis Matta

Apalagi yang tersisa dari ketampanan setelah ia dibagi habis oleh Nabi Yusuf dan Muhammad. Apalagi yang tersisa dari kecantikan setelah ia dibagi habis oleh Sarah, istri Nabi Ibrahim, dan Khadijah, istri Nabi Muhammad SAW? Apalagi yang tersisa dari pesona kebajikan setelah ia direbut oleh Ustman bin Affan? Apalagi yang tersisa dari kehalusan budi setelah ia direbut habis oleh Aisyah?

Kita hanya berbagi pada sedikit yang tersisa dari pesona jiwa raga yang telah direguk habis oleh para nabi dan orang shalih terdahulu. Karena itu persoalan cinta selalu permanen begitu: jarang sekali pesona jiwa raga menyatu secara utuh dan sempurna dalam diri kita. Pilihan-pilihan kita, dengan begitu, selalu sulit. Ada lelaki ganteng atau perempuan cantik yang kurang berbudi. Sebaliknya, ada lelaki shaleh yang tidak menawan atau perempuan shalehah yang tidak cantik.

Read the rest of this entry »





Di Jalan Dakwah Aku Menikah

13 07 2007

Atribut yang diberikan Islam kepada kita, salah satunya adalah dai ilallah. Kita dituntut untuk merealisasikan dakwah dalam seluruh waktu kehidupan kita. Setiap langkah kita sesungguhnya adalah dakwah kepada Allah, sebab dengan itulah Islam terkabarkan kepada masyarakat. Bukankah dakwah bermakna mengajak manusia merealisasikan ajaran-ajaran Allah dalam kehidupan keseharian? Sudah selayaknya kita sebagai pelaku yang menunaikan pertama kali, sebelum mengajak kepada yang lainnya.

Pernikahan akan bersifat dakwah apabila dilaksanakan sesuai dengan tuntunan Islam di satu sisi, dan menimbang berbagai kemaslahatan dakwah dalam setiap langkahnya, pada sisi yang lain. Dalam memilih jodoh, dipilihkan pasangan hidup yang bernilai optimal bagi dakwah. Dalam menentukan siapa calon jodoh tersebut, dipertimbangkan pula kemaslahatan secara lebih luas. selain kriteria umum sebagaimana tuntunan fikih Islam, pertimbangan lainnya adalah : apakah pemilihan jodoh ini memiliki implikasi kemaslahatan yang optimal bagi dakwah, ataukah sekedar mendapatkan kemaslahatan bagi dirinya? mari saya beri contoh berikut. diantara sekian banyak wanita muslimah yang telah memasuki usia siap menikah, mereka berbeda-beda jumlah bilangan usianya yang oleh karena itu berbeda pula tingkat kemendesakan untuk menikah. Beberapa orang bahkan sudah mencapai usia 35 tahun, sebagian yang lain antara 30 hingga 35 tahun, sebagian berusia 25 hingga 30, dan yang lainnya di bawah usia 25 tahun. Mereka semua ini siap menikah, siap menjalankan fungsinya dan peran sebagai isteri dan ibu di rumah tangga.

Anda adalah laki-laki muslim yang telah berniat melaksanakan pernikahan. Usia anda 25 tahun. Anda dihadapkan pada realitas bahwa wanita muslimah yang sesuai kriteria fikih Islam untuk anda nikahi ada sekian banyak jumlahnya. Maka siapakah yang lebih anda pilih, dan dengan pertimbangan apa anda memilih dia sebagai calon isteri anda?

Read the rest of this entry »





Dua Jendela

12 07 2007

jendela.jpg


Ad
a dua jendela yang selalu kita buka untuk menjaga kesehatan. Pertama, tentu saja jendela di rumah, di setiap kamar dan ruangan yang berjendela. Bukalah jendela setiap pagi agar terjadi sirkulasi udara pagi yang sehat menggantikan udara di dalam rumah. Tak hanya itu, jendela yang terbuka juga memungkinkan masuknya sinar matahari dan menghangatkan seisi rumah.

Jendela yang senantiasa terbuka, membuat udara di dalam rumah terus berganti dan selalu segar. Itu memungkinkan seisi rumah terus menerus mendapatkan kesegaran karena ruangan tidak lembab dan terlihat lebih cerah. Udara pagi mengalirkan kesejukkan, udara siang memberi kehangatan, dan semilir angin sore yang menembus celah-celah jendela menyajikan kelembutan senja.

Sebelum malam tiba, jendela pun harus ditutup kembali dengan membiarkan angin malam menerobos tipis di setiap himpitan jendela dan ventilasi rumah. Sekadar menjaga kehidupan terus berlangsung meski semua mata penghuni sudah terpejam.

Belum selesai…

Ada satu jendela lagi yang terus menerus dibuka setiap hari. Yakni jendela hati. Biarkan ia terus terbuka lebar agar menjadi terang dan menerima semua kebaikan kehidupan. Hati yang senantiasa terbuka memberi kesempatan dengki, iri, sirik, riya, angkuh, sombong, dan segala keburukan hati keluar menjauh dari dalam hati.

Jiwa yang tertutup hanya akan membuat segala penyakit betah bersemayam dan terus menggerogoti dinding-dindingnya. Sekuat apa pun dinding jiwa itu, semakin lama akan terkikis habis sehingga tak mampu menjalankan perannya untuk menyaring dzat baik atau buruk untuk sang jiwa. Atau boleh jadi, tertutupnya jendela hati menyebabkan menebalnya karat di dinding hati sehingga lama kelamaan hati ini membatu.

Jika jendela rumah kita harus ditutup setiap malam menjelang. Jangan biarkan jendela hati tertutup. Biarkan ia terbuka terus menerus tanpa perlu menguncinya rapat-rapat. Tak peduli pagi, siang, maupun malam hari, teruslah membuka hati agar sesiapa pun yang bertamu ke dalam hati Anda merasakan ketentraman dan kedamaian.

Dengan selalu membuka semua jendela di hati, pikiran jernih, sikap bersih, tindakan pun terarah. Dari hati yang senantiasa terbuka, segala apa pun yang terserap ke dalamnya akan bermakna kebaikan. Bahkan sebuah kritik pedas pun akan terasa manis. Semoga.

Sumber : BG





Belajar Berhenti Mengeluh

12 07 2007

Wacana sederhana ini terinspirasi dari bagian epilog buku “Kado Pernikahan untuk Istriku” disana mengutip perjuangan dan kemuliaan Fatimah azZahra yang tiada pernah terlontar keluhan sedikitpun dari lisannya…Subhanallah….
-Sri Rahayu-

Tak jarang bibir ini mengucapkan hal-hal yang bersifat keluhan, keputusasaan, bahkan pertanyaan kepada Allah atas apa yang terjadi. Padahal, bila saja mata ini mau terbuka lebih lebar lagi, masih banyak saudara kita yang keadaannya lebih kurang dari yang kita miliki.

Astaghfirullah…

Kadang kita tak berhenti mengeluhkan tentang keadaan. Yang kita pikir, seharusnya kita bisa lebih baik dari ini. Hanya ucapan kekecewaan dan penyesalan yang ada. Memang, kita harus selalu ingin jadi lebih baik. Tapi bersyukur dengan apa yang ada juga sangat penting, karena tanpa rasa syukur itu hidup dijamin tidak akan bisa sambil tersenyum.

Setidaknya, kita pernah merasakan hal tersebut. Bahkan mungkin, pernah mengalami apa yang disebut kekecewaan, penyesalan, keterlambatan dalam mengerjakan suatu hal yang bila kita melakukan hal tersebut mungkin kita akan lebih baik dari sekarang, dan sebagainya.

Seberat apapun perasaan kecewa yang kita rasakan dalam hidup ini, janganlah pernah mengeluh. Mulai dari sekarang, camkan dalam diri agar kita bisa berhenti mengeluh. Karena sesungguhnya, mengeluh itu sama saja artinya dengan tidak mensyukuri nikmat yang telah diberikan oleh Allah SWT.

Astaghfirullah…





Selalu Bersemangat

12 07 2007

Wacana sederhana ini saya sajikan sesuai moto hidup saya “Jangan Pantang Menyerah Meraih Yang Terbaik, Keep Fight and Keep Smile”. – Sri Rahayu-

Ada banyak hal yang mesti dijalani dalam kehidupan ini, sukses atau gagal, senang atau sedih, dan lain sebagainya. Dalam menyikap hal tersebut, kita harus terus menatap ke depan dan selalu berusaha menjadi yang terbaik. Ingat, yang terbaik. Masa lalu tinggallah masa lalu, dan selalu akan menjadi kenangan, hanya bagaimana mengolahnya agar menghasilkan buah yang manis di kemudian hari. Tak mungkin? Tidak ada yang tidak mungkin.

Kerap kali kita selalu berpikir dan berkeinginan untuk mendapatkan sesuatu yang kita inginkan, namun kadangkala keinginan itu tak mudah tercapai. Tapi meski begitu, penyesalan bukan dijadikan jalan akhirnya, karena kegagalan bukan akhir dari segalanya, melainkan kegagalan itu langkah awal merubah diri kita untuk menjadi lebih tahu, lebih dewasa, serta lebih berhati-hati lagi dalam meyikapi tiap-tiap persoalan yang kita hadapi.

Nikmati saja hidup ini dan jalani apa adanya sembari berusaha untuk memberikan yang terbaik. Setelah itu, kembalikanlah semua urusan hanya kepada Allah semata, karena Dia lah yang menentukan hasil akhirnya. Kenalilah Allah di setiap saat, niscaya Allah juga akan mengenali kita. Janganlah kita bersikap lemah dan bersedih hati. Jangan takuti suatu kejadian yang belum tentu akan terjadi, karena rasa takut yang tak beralasan tak akan ada manfaatnya.

Sebagai hamba yang beriman, kita harus pantang menyerah tak kenal lelah, jangan biarkan kehidupan sementara ini sebagai landasan untuk keputusasaan dan patah semangat. Janganlah bebani diri untuk kehidupan sekejap ini, buang jauh-jauh keputusasaan, lalu dekatkan diri hanya kepada Allah SWT. Hanya dengan mengingat Allah, maka hati akan selalu menjadi tenteram. Oleh karena itu, tetaplah semangat untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT.