<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Bergerak Dinamis Tanpa Henti</title>
	<atom:link href="http://titikbalik.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://titikbalik.wordpress.com</link>
	<description>Dengan Menyebut Nama-Mu Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang...Kami Bersama Menapaki Jalan Ini Untuk Menggapai Ridho dan Cinta-Mu</description>
	<lastBuildDate>Tue, 24 Nov 2009 03:31:18 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<cloud domain='titikbalik.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://www.gravatar.com/blavatar/450e179764fba9f4228ffcecf2fe4f3e?s=96&#038;d=http://s.wordpress.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Bergerak Dinamis Tanpa Henti</title>
		<link>http://titikbalik.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://titikbalik.wordpress.com/osd.xml" title="Bergerak Dinamis Tanpa Henti" />
		<item>
		<title>Mengelola Ketidaksempurnaan</title>
		<link>http://titikbalik.wordpress.com/2009/10/13/mengelola-ketidaksempurnaan/</link>
		<comments>http://titikbalik.wordpress.com/2009/10/13/mengelola-ketidaksempurnaan/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 13 Oct 2009 04:22:17 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ayudansigit</dc:creator>
				<category><![CDATA[Percik]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://titikbalik.wordpress.com/2009/10/13/mengelola-ketidaksempurnaan/</guid>
		<description><![CDATA[oleh: M. Anis Matta
Apalagi yang tersisa dari ketampanan setelah ia dibagi habis oleh Nabi Yusuf dan Muhammad. Apalagi yang tersisa dari kecantikan setelah ia dibagi habis oleh Sarah, istri Nabi Ibrahim, dan Khadijah, istri Nabi Muhammad SAW? Apalagi yang tersisa dari pesona kebajikan setelah ia direbut oleh Ustman bin Affan? Apalagi yang tersisa dari kehalusan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=titikbalik.wordpress.com&blog=1348603&post=145&subd=titikbalik&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>oleh: M. Anis Matta</p>
<p>Apalagi yang tersisa dari ketampanan setelah ia dibagi habis oleh Nabi Yusuf dan Muhammad. Apalagi yang tersisa dari kecantikan setelah ia dibagi habis oleh Sarah, istri Nabi Ibrahim, dan Khadijah, istri Nabi Muhammad SAW? Apalagi yang tersisa dari pesona kebajikan setelah ia direbut oleh Ustman bin Affan? Apalagi yang tersisa dari kehalusan budi setelah ia direbut habis oleh Aisyah?</p>
<p>Kita hanya berbagi pada sedikit yang tersisa dari pesona jiwa raga yang telah direguk habis oleh para nabi dan orang shalih terdahulu. Karena itu persoalan cinta selalu permanen begitu: jarang sekali pesona jiwa raga menyatu secara utuh dan sempurna dalam diri kita. Pilihan-pilihan kita, dengan begitu, selalu sulit. Ada lelaki ganteng atau perempuan cantik yang kurang berbudi. Sebaliknya, ada lelaki shaleh yang tidak menawan atau perempuan shalehah yang tidak cantik.</p>
<p><span id="more-145"></span></p>
<p>Pesona kita selalu tunggal. Padahal cinta membutuhkan dua kaki untuk bisa berdiri dan berjalan dalam waktu yang lama. Maka tentang pesona fisik itu Imam Ghazali mengatakan: “Pilihlah istri yang cantik agar kamu tidak bosan.” Tapi tentang pesona jiwa itu Rasulullah SAW bersabda: “Tapi pilihlah calon istri yang taat beragama niscaya kamu pasti beruntung.”</p>
<p>Persoalan kita adalah ketidaksempurnaan. Seperti ketika dunia menyaksikan tragedi cinta Puteri Diana dan Pangeran Charles. Dua setengah milyar manusia menyaksikan pemakamannya di televisi. Semua sedih. Semua menangis.Puteri yang pernah menjadi trendsetter kecantikan dunia dekade 80-an itu rasanya terlalu cantik untuk disia-siakan oleh sang pangeran. Apalagi Camila Parker yang menjadi kekasih gelap sang pangeran saat itu, secara fisik sangat tidak sebanding dengan Diana. Tapi tidak ada yang secara obyektif mau bertanya ketika itu. Kenapa akhirnya Charles lebih memilih Camila, perempuan sederhana, tidak bisa dibilang cantik, dan lebih tua ketimbang Diana, gadis cantik berwajah boneka itu? Jawaban Charles mungkin memang terlalu sederhana. Tapi itu fakta, “Karena saya lebih bisa bicara dengan Camila.”</p>
<p>Kekuatan budi memang bertahan lebih lama. Tapi pesona fisik justru terkembang di tahun-tahun awal pernikahan. Karena itu ia menentukan. Begitu masa uji cinta selesai, biasanya lima sampai sepuluh tahun, kekuatan budi akhirnya yang menentukan sukses tidaknya sebuah hubungan jangka panjang. Dampak gelombang magnetik fisik berkurang Bukan karena kecantikan atau ketampanan berkurang. atau hilang bersama waktu. Yang berkurang adalah pengaruhnya. Itu akibat sentuhan terus menerus yang mengurangi kesadaran emosi tentang gelombang magnetik tersebut.</p>
<p>Apa yang harus kita lakukan adalah mengelola ketidaksempurnaan melalui proses pembelajaran. Belajar adalah proses berubah secara konstan untuk menjadi lebih baik dan sempurna dari waktu ke waktu. Fisik mungkin tidak bisa dirubah. Tapi pesona fisik bukan hanya tampang. Ia lebih ditentukan oleh aura yang dibentuk dari gabungan antara kepribadian bawaan, pengetahuan dan pengalaman hidup. Ketiga hal itu biasanya termanifestasi pada garis-garis wajah, senyuman dan tatapan mata serta gerakan refleks tubuh kita. Itu yang menjelaskan mengapa sering ada lelaki yang tidak terlalu tampan tapi mempesona banyak wanita. Begitu juga sebaliknya.</p>
<p>Itu jalan tengah yang bisa ditempuh semua orang sebagai pecinta pembelajar. Karena pengetahuan dan pengalaman adalah perolehan hidup yang membuat kita tampak matang. Dan kematangan itu pesonanya. Sebab, setiap kali pengetahuan kita bertambah, kata Malik bin Nabi, wajah kita akan tampak lebih baik dan bercahaya.</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/titikbalik.wordpress.com/145/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/titikbalik.wordpress.com/145/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/titikbalik.wordpress.com/145/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/titikbalik.wordpress.com/145/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/titikbalik.wordpress.com/145/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/titikbalik.wordpress.com/145/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/titikbalik.wordpress.com/145/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/titikbalik.wordpress.com/145/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/titikbalik.wordpress.com/145/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/titikbalik.wordpress.com/145/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=titikbalik.wordpress.com&blog=1348603&post=145&subd=titikbalik&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://titikbalik.wordpress.com/2009/10/13/mengelola-ketidaksempurnaan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/bc2cb95a1de5837de7ebbb19e86e8559?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">ayudansigit</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Galeri Foto Walimatul &#8216;Ursy</title>
		<link>http://titikbalik.wordpress.com/2007/09/04/walimatul-ursy/</link>
		<comments>http://titikbalik.wordpress.com/2007/09/04/walimatul-ursy/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 04 Sep 2007 06:56:42 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ayudansigit</dc:creator>
				<category><![CDATA[Galeri Foto]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://titikbalik.wordpress.com/2007/09/04/walimatul-ursy/</guid>
		<description><![CDATA[Alhamdulillah&#8230;.Segala Puji BagiMu ya Allah&#8230;.Atas segala karunia dan kemudahan yang Engkau berikan pada kami.

Ya Allah…
Sesungguhnya Engkau Maha Mengetahui bahwa hati-hati ini telah berkumpul untuk mencurahkan cinta hanya kepada-Mu, bertemu untuk taat kepada-Mu, bersatu dalam rangka menyeru [di jalan]-Mu, dan berjanji setia untuk membela syariat-Mu maka kuatkanlah ikatan pertaliannya.
&#160;
 
&#160;
Ya Allah, ya Karim
Ijinkan hamba-hambaMu ini berikhtiar
Dalam [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=titikbalik.wordpress.com&blog=1348603&post=121&subd=titikbalik&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p align="center"><em>Alhamdulillah&#8230;.Segala Puji BagiMu ya Allah&#8230;.Atas segala karunia dan kemudahan yang Engkau berikan pada kami.<br />
</em></p>
<p style="text-align:center;" align="center"><em>Ya Allah…<br />
Sesungguhnya Engkau Maha Mengetahui bahwa hati-hati ini telah berkumpul untuk mencurahkan cinta hanya kepada-Mu, bertemu untuk taat kepada-Mu, bersatu dalam rangka menyeru [di jalan]-Mu, dan berjanji setia untuk membela syariat-Mu maka kuatkanlah ikatan pertaliannya.</em></p>
<p align="center">&nbsp;</p>
<p><div><embed src='http://widget-dd.slide.com/widgets/slideticker.swf' type='application/x-shockwave-flash' quality='high' scale='noscale' salign='l' wmode='transparent' flashvars='site=widget-dd.slide.com&#038;channel=144115188086886621&#038;cy=wp&#038;il=1' width='500' height='200' name='flashticker' align='middle' /><div style='width: 500px;text-align:left;'><a href='http://www.slide.com/pivot?ad=0&#038;tt=0&#038;sk=0&#038;cy=wp&#038;th=0&#038;id=144115188086886621&#038;map=1' target='_blank'><img src='http://widget-dd.slide.com/p1/144115188086886621/wp_t000_v000_a000_f00/images/xslide1.gif' border='0' ismap='ismap' /></a> <a href='http://www.slide.com/pivot?ad=0&#038;tt=0&#038;sk=0&#038;cy=wp&#038;th=0&#038;id=144115188086886621&#038;map=2' target='_blank'><img src='http://widget-dd.slide.com/p2/144115188086886621/wp_t000_v000_a000_f00/images/xslide2.gif' border='0' ismap='ismap' /></a></div></div></p>
<p style="text-align:center;" align="center">&nbsp;</p>
<p style="text-align:center;" align="center"><em><span style="color:#505050;">Ya Allah, ya Karim</span></em><br />
<em><span style="color:#505050;">Ijinkan hamba-hambaMu ini berikhtiar</span></em><br />
<em><span style="color:#505050;">Dalam batas-batas syari&#8217;at yang telah Engkau gariskan</span></em><br />
<em><span style="color:#505050;">Dalam hembusan sejuknya iman<br />
Rabbana hablana min azwajina wadzurriyatina qurrata a&#8217;yun waj&#8217;alna lil muttaqina imama (QS. 25 : 74)<br />
&#8230;&#8230;.amiin ya rabbal &#8216;aalamiin&#8230;&#8230;..</span></em></p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/titikbalik.wordpress.com/121/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/titikbalik.wordpress.com/121/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/titikbalik.wordpress.com/121/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/titikbalik.wordpress.com/121/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/titikbalik.wordpress.com/121/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/titikbalik.wordpress.com/121/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/titikbalik.wordpress.com/121/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/titikbalik.wordpress.com/121/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/titikbalik.wordpress.com/121/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/titikbalik.wordpress.com/121/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/titikbalik.wordpress.com/121/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/titikbalik.wordpress.com/121/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=titikbalik.wordpress.com&blog=1348603&post=121&subd=titikbalik&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://titikbalik.wordpress.com/2007/09/04/walimatul-ursy/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>9</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/bc2cb95a1de5837de7ebbb19e86e8559?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">ayudansigit</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Dua Hati Merajut Asa</title>
		<link>http://titikbalik.wordpress.com/2007/07/18/pra-wedding/</link>
		<comments>http://titikbalik.wordpress.com/2007/07/18/pra-wedding/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 18 Jul 2007 02:44:30 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ayudansigit</dc:creator>
				<category><![CDATA[Galeri Foto]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://titikbalik.wordpress.com/2007/07/18/pra-wedding/</guid>
		<description><![CDATA[Ya Allah…
Sesungguhnya Engkau Maha Mengetahui bahwa hati-hati ini telah berkumpul untuk mencurahkan cinta hanya kepada-Mu, bertemu untuk taat kepada-Mu, bersatu dalam rangka menyeru [di jalan]-Mu, dan berjanji setia untuk membela syariat-Mu maka kuatkanlah ikatan pertaliannya.
&#160;
 
&#160;
Ya Allah, ya Karim
 Ijinkan hamba-hambaMu ini berikhtiar
 Dalam batas-batas syari&#8217;at yang telah Engkau gariskan
 Dalam hembusan sejuknya iman
Rabbana hablana [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=titikbalik.wordpress.com&blog=1348603&post=81&subd=titikbalik&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p align="center"><em>Ya Allah…<br />
Sesungguhnya Engkau Maha Mengetahui bahwa hati-hati ini telah berkumpul untuk mencurahkan cinta hanya kepada-Mu, bertemu untuk taat kepada-Mu, bersatu dalam rangka menyeru [di jalan]-Mu, dan berjanji setia untuk membela syariat-Mu maka kuatkanlah ikatan pertaliannya.</em></p>
<p align="center">&nbsp;</p>
<p align="center"><div><embed src='http://widget-ef.slide.com/widgets/slideticker.swf' type='application/x-shockwave-flash' quality='high' scale='noscale' salign='l' wmode='transparent' flashvars='site=widget-ef.slide.com&#038;channel=144115188086180079&#038;cy=wp&#038;il=1' width='500' height='200' name='flashticker' align='middle' /><div style='width: 500px;text-align:left;'><a href='http://www.slide.com/pivot?ad=0&#038;tt=0&#038;sk=0&#038;cy=wp&#038;th=0&#038;id=144115188086180079&#038;map=1' target='_blank'><img src='http://widget-ef.slide.com/p1/144115188086180079/wp_t000_v000_a000_f00/images/xslide1.gif' border='0' ismap='ismap' /></a> <a href='http://www.slide.com/pivot?ad=0&#038;tt=0&#038;sk=0&#038;cy=wp&#038;th=0&#038;id=144115188086180079&#038;map=2' target='_blank'><img src='http://widget-ef.slide.com/p2/144115188086180079/wp_t000_v000_a000_f00/images/xslide2.gif' border='0' ismap='ismap' /></a></div></div></p>
<p align="center">&nbsp;</p>
<p align="center"><em><font color="#505050">Ya Allah, ya Karim</font></em><br />
<em><font color="#505050"> Ijinkan hamba-hambaMu ini berikhtiar</font></em><br />
<em><font color="#505050"> Dalam batas-batas syari&#8217;at yang telah Engkau gariskan</font></em><br />
<em><font color="#505050"> Dalam hembusan sejuknya iman<br />
Rabbana hablana min azwajina wadzurriyatina qurrata a&#8217;yun waj&#8217;alna lil muttaqina imama (QS. 25 : 74)<br />
&#8230;&#8230;.amiin ya rabbal &#8216;aalamiin&#8230;&#8230;..</font></em></p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/titikbalik.wordpress.com/81/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/titikbalik.wordpress.com/81/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/titikbalik.wordpress.com/81/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/titikbalik.wordpress.com/81/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/titikbalik.wordpress.com/81/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/titikbalik.wordpress.com/81/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/titikbalik.wordpress.com/81/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/titikbalik.wordpress.com/81/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/titikbalik.wordpress.com/81/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/titikbalik.wordpress.com/81/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/titikbalik.wordpress.com/81/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/titikbalik.wordpress.com/81/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=titikbalik.wordpress.com&blog=1348603&post=81&subd=titikbalik&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://titikbalik.wordpress.com/2007/07/18/pra-wedding/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/bc2cb95a1de5837de7ebbb19e86e8559?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">ayudansigit</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Nasihat Perkawinan</title>
		<link>http://titikbalik.wordpress.com/2007/07/17/nasihat-perkawinan/</link>
		<comments>http://titikbalik.wordpress.com/2007/07/17/nasihat-perkawinan/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 17 Jul 2007 03:56:51 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ayudansigit</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pilar-pilar]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://titikbalik.wordpress.com/2007/07/17/nasihat-perkawinan/</guid>
		<description><![CDATA[KATA PENGANTAR
Islam adalah agama yang syumul (universal). Agama yang mencakup semua
sisi kehidupan. Tidak ada suatu masalahpun, dalam kehidupan ini, yang
tidak dijelaskan. Dan tidak ada satupun masalah yang tidak disentuh
nilai Islam, walau masalah tersebut nampak kecil dan sepele. Itulah
Islam, agama yang memberi rahmat bagi sekalian alam.
Dalam masalah perkawinan, Islam telah berbicara banyak. Dari mulai
bagaimana mencari kriteria [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=titikbalik.wordpress.com&blog=1348603&post=76&subd=titikbalik&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><strong>KATA PENGANTAR</strong></p>
<p>Islam adalah agama yang syumul (universal). Agama yang mencakup semua<br />
sisi kehidupan. Tidak ada suatu masalahpun, dalam kehidupan ini, yang<br />
tidak dijelaskan. Dan tidak ada satupun masalah yang tidak disentuh<br />
nilai Islam, walau masalah tersebut nampak kecil dan sepele. Itulah<br />
Islam, agama yang memberi rahmat bagi sekalian alam.</p>
<p>Dalam masalah perkawinan, Islam telah berbicara banyak. Dari mulai<br />
bagaimana mencari kriteria bakal calon pendamping hidup, hingga<br />
bagaimana memperlakukannya kala resmi menjadi sang penyejuk hati. Islam<br />
menuntunnya. Begitupula Islam mengajarkan bagaimana mewujudkan sebuah<br />
pesta pernikahan yang meriah, namun tetap mendapatkan berkah dan tidak<br />
melanggar tuntunan sunnah Rasulullah shallallhu &#8216;alaihi wa sallam,<br />
begitupula dengan pernikahan yang sederhana namun tetap penuh dengan<br />
pesona. Islam mengajarkannya.</p>
<p>Nikah merupakan jalan yang paling bermanfa&#8217;at dan paling afdhal dalam<br />
upaya merealisasikan dan menjaga kehormatan, karena dengan nikah inilah<br />
seseorang bisa terjaga dirinya dari apa yang diharamkan Allah. Oleh<br />
sebab itulah Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam mendorong untuk<br />
mempercepat nikah, mempermudah jalan untuknya dan memberantas<br />
kendala-kendalanya.</p>
<p><span id="more-76"></span></p>
<p>Nikah merupakan jalan fitrah yang bisa menuntaskan gejolak biologis<br />
dalam diri manusia, demi mengangkat cita-cita luhur yang kemudian dari<br />
persilangan syar&#8217;i tersebut sepasang suami istri dapat menghasilkan<br />
keturunan, hingga dengan perannya kemakmuran bumi ini menjadi semakin<br />
semarak.</p>
<p>Melalui risalah singkat ini. Anda diajak untuk bisa mempelajari dan<br />
menyelami tata cara perkawinan Islam yang begitu agung nan penuh nuansa.<br />
Anda akan diajak untuk meninggalkan tradisi-tradisi masa lalu yang penuh<br />
dengan upacara-upacara dan adat istiadat yang berkepanjangan dan<br />
melelahkan.</p>
<p>Mestikah kita bergelimang dengan kesombongan dan kedurhakaan hanya<br />
lantaran sebuah pernikahan ..? Na&#8217;udzu billahi min dzalik.</p>
<p>Wallahu musta&#8217;an.</p>
<p><strong>MUQADIMAH</strong></p>
<p>Persoalan perkawinan adalah persoalan yang selalu aktual dan selalu<br />
menarik untuk dibicarakan, karena persoalan ini bukan hanya menyangkut<br />
tabiat dan hajat hidup manusia yang asasi saja tetapi juga menyentuh<br />
suatu lembaga yang luhur dan sentral yaitu rumah tangga. Luhur, karena<br />
lembaga ini merupakan benteng bagi pertahanan martabat manusia dan<br />
nilai-nilai ahlaq yang luhur dan sentral.</p>
<p>Karena lembaga itu memang merupakan pusat bagi lahir dan tumbuhnya Bani<br />
Adam, yang kelak mempunyai peranan kunci dalam mewujudkan kedamaian dan<br />
kemakmuran di bumi ini. Menurut Islam Bani Adamlah yang memperoleh<br />
kehormatan untuk memikul amanah Ilahi sebagai khalifah di muka bumi,<br />
sebagaimana firman Allah Ta&#8217;ala.<br />
&#8220;Artinya : Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat :<br />
&#8220;Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi&#8221;.<br />
Mereka berkata : &#8220;Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di muka<br />
bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan<br />
darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan<br />
mensucikan Engkau ?. Allah berfirman : &#8220;Sesungguhnya Aku mengetahui apa<br />
yang tidak kamu ketahui&#8221;. (Al-Baqarah : 30).</p>
<p>Perkawinan bukanlah persoalan kecil dan sepele, tapi merupakan persoalan<br />
penting dan besar. &#8216;Aqad nikah (perkawinan) adalah sebagai suatu<br />
perjanjian yang kokoh dan suci (MITSAAQON GHOLIIDHOO), sebagaiman firman<br />
Allah Ta&#8217;ala.<br />
&#8220;Artinya : Bagaimana kamu akan mengambilnya kembali, padahal sebagian<br />
kamu telah bergaul (bercampur) dengan yang lain sebagai suami istri dan<br />
mereka (istri-istrimu) telah mengambil dari kamu perjanjian yang kuat&#8221;.<br />
(An-Nisaa&#8217; : 21).</p>
<p>Karena itu, diharapkan semua pihak yang terlibat di dalamnya, khusunya<br />
suami istri, memelihara dan menjaganya secara sunguh-sungguh dan penuh<br />
tanggung jawab.</p>
<p>Agama Islam telah memberikan petunjuk yang lengkap dan rinci terhadap<br />
persoalan perkawinan. Mulai dari anjuran menikah, cara memilih pasangan<br />
yang ideal, melakukan khitbah (peminangan), bagaimana mendidik anak,<br />
serta memberikan jalan keluar jika terjadi kemelut dalam rumah tangga,<br />
sampai dalam proses nafaqah dan harta waris, semua diatur oleh Islam<br />
secara rinci dan detail.</p>
<p>Selanjutnya untuk memahami konsep Islam tentang perkawinan, maka rujukan<br />
yang paling sah dan benar adalah Al-Qur&#8217;an dan As-Sunnah Shahih (yang<br />
sesuai dengan pemahaman Salafus Shalih -pen), dengan rujukan ini kita<br />
akan dapati kejelasan tentang aspek-aspek perkawinan maupun beberapa<br />
penyimpangan dan pergeseran nilai perkawinan yang terjadi di masyarakat<br />
kita.</p>
<p>Tentu saja tidak semua persoalan dapat penulis tuangkan dalam tulisan<br />
ini, hanya beberapa persoalan yang perlu dibahas yaitu tentang : Fitrah<br />
Manusia, Tujuan Perkawinan dalam Islam, Tata Cara Perkawinan dan<br />
Penyimpangan Dalam Perkawinan.</p>
<p><strong>PERKAWINAN ADALAH FITRAH KEMANUSIAAN</strong></p>
<p>Agama Islam adalah agama fithrah, dan manusia diciptakan Allah Ta&#8217;ala<br />
cocok dengan fitrah ini, karena itu Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala menyuruh<br />
manusia menghadapkan diri ke agama fithrah agar idak terjadi<br />
penyelewengan dan penyimpangan. Sehingga manusia berjalan di atas<br />
fitrahnya.</p>
<p>Perkawinan adalah fithrah kemanusiaan, maka dari itu Islam menganjurkan<br />
untuk nikah, karena nikah merupakan gharizah insaniyah (naluri<br />
kemanusiaan). Bila gharizah ini tidak dipenuhi dengan jalan yang sah<br />
yaitu perkawinan, maka ia akan mencari jalan-jalan syetan yang banyak<br />
menjerumuskan ke lembah hitam. Firman Allah Ta&#8217;ala.<br />
&#8220;Artinya : Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Allah) ;<br />
(tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut<br />
fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang<br />
lurus ; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui&#8221;. (Ar-Ruum : 30).</p>
<p><em><strong>A. Islam Menganjurkan Nikah</strong></em></p>
<p>Islam telah menjadikan ikatan perkawinan yang sah berdasarkan Al-Qur&#8217;an<br />
dan As-Sunnah sebagi satu-satunya sarana untuk memenuhi tuntutan naluri<br />
manusia yang sangat asasi, dan sarana untuk membina keluarga yang<br />
Islami. Penghargaan Islam terhadap ikatan perkawinan besar sekali,<br />
sampai-sampai ikatan itu ditetapkan sebanding dengan separuh agama. Anas<br />
bin Malik radliyallahu &#8216;anhu berkata : &#8220;Telah bersabda Rasulullah<br />
shallallahu &#8216;alaihi wa sallam :<br />
&#8220;Artinya : Barangsiapa menikah, maka ia telah melengkapi separuh dari<br />
agamanya. Dan hendaklah ia bertaqwa kepada Allah dalam memelihara yang<br />
separuhnya lagi&#8221;. (Hadist Riwayat Thabrani dan Hakim).</p>
<p><em><strong>B. Islam Tidak Menyukai Membujang</strong></em></p>
<p>Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam memerintahkan untuk menikah dan<br />
melarang keras kepada orang yang tidak mau menikah. Anas bin Malik<br />
radliyallahu &#8216;anhu berkata : &#8220;Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam<br />
memerintahkan kami untuk nikah dan melarang kami membujang dengan<br />
larangan yang keras&#8221;. Dan beliau bersabda :<br />
&#8220;Artinya : Nikahilah perempuan yang banyak anak dan penyayang. Karena<br />
aku akan berbanggga dengan banyaknya umatku dihadapan para Nabi kelak di<br />
hari kiamat&#8221;. (Hadits Riwayat Ahmad dan di shahihkan oleh Ibnu Hibban).</p>
<p>Pernah suatu ketika tiga orang shahabat datang bertanya kepada<br />
istri-istri Nabi shallallahu &#8216;alaihi wa sallam tentang peribadatan<br />
beliau, kemudian setelah diterangkan, masing-masing ingin meningkatkan<br />
peribadatan mereka. Salah seorang berkata : Adapun saya, akan puasa<br />
sepanjang masa tanpa putus. Dan yang lain berkata : Adapun saya akan<br />
menjauhi wanita, saya tidak akan kawin selamanya &#8230;. Ketika hal itu di<br />
dengar oleh Nabi shallallahu &#8216;alaihi wa sallam, beliau keluar seraya<br />
bersabda :<br />
&#8220;Artinya : Benarkah kalian telah berkata begini dan begitu, sungguh demi<br />
Allah, sesungguhnya akulah yang paling takut dan taqwa di antara kalian.<br />
Akan tetapi aku berpuasa dan aku berbuka, aku shalat dan aku juga tidur<br />
dan aku juga mengawini perempuan. Maka barangsiapa yang tidak menyukai<br />
sunnahku, maka ia tidak termasuk golongannku&#8221;. (Hadits Riwayat Bukhari<br />
dan Muslim).</p>
<p>Orang yang mempunyai akal dan bashirah tidak akan mau menjerumuskan<br />
dirinya ke jalan kesesatan dengan hidup membujang. Kata Syaikh Hussain<br />
Muhammad Yusuf : &#8220;Hidup membujang adalah suatu kehidupan yang kering dan<br />
gersang, hidup yang tidak mempunyai makna dan tujuan. Suatu kehidupan<br />
yang hampa dari berbagai keutamaan insani yang pada umumnya ditegakkan<br />
atas dasar egoisme dan mementingkan diri sendiri serta ingin terlepas<br />
dari semua tanggung jawab&#8221;.</p>
<p>Orang yang membujang pada umumnya hanya hidup untuk dirinya sendiri.<br />
Mereka membujang bersama hawa nafsu yang selalu bergelora, hingga<br />
kemurnian semangat dan rohaninya menjadi keruh. Mereka selalu ada dalam<br />
pergolakan melawan fitrahnya, kendatipun ketaqwaan mereka dapat<br />
diandalkan, namun pergolakan yang terjadi secara terus menerus lama<br />
kelamaan akan melemahkan iman dan ketahanan jiwa serta mengganggu<br />
kesehatan dan akan membawanya ke lembah kenistaan.</p>
<p>Jadi orang yang enggan menikah baik itu laki-laki atau perempuan, maka<br />
mereka itu sebenarnya tergolong orang yang paling sengsara dalam hidup<br />
ini. Mereka itu adalah orang yang paling tidak menikmati kebahagian<br />
hidup, baik kesenangan bersifat sensual maupun spiritual. Mungkin mereka<br />
kaya, namun mereka miskin dari karunia Allah.</p>
<p>Islam menolak sistem ke-rahib-an karena sistem tersebut bertentangan<br />
dengan fitrah kemanusiaan, dan bahkan sikap itu berarti melawan sunnah<br />
dan kodrat Allah Ta&#8217;ala yang telah ditetapkan bagi mahluknya. Sikap<br />
enggan membina rumah tangga karena takut miskin adalah sikap orang jahil<br />
(bodoh), karena semua rezeki sudah diatur oleh Allah sejak manusia<br />
berada di alam rahim, dan manusia tidak bisa menteorikan rezeki yang<br />
diakaruniakan Allah, misalnya ia berkata : &#8220;Bila saya hidup sendiri gaji<br />
saya cukup, tapi bila punya istri tidak cukup ?!&#8221;.</p>
<p>Perkataan ini adalah perkataan yang batil, karena bertentangan dengan<br />
ayat-ayat Allah dan hadits-hadits Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa<br />
sallam. Allah memerintahkan untuk kawin, dan seandainya mereka fakir<br />
pasti Allah akan membantu dengan memberi rezeki kepadanya. Allah<br />
menjanjikan suatu pertolongan kepada orang yang nikah, dalam firman-Nya<br />
:<br />
&#8220;Artinya : Dan kawinkanlah orang-orang yang sendirian di antara kamu dan<br />
orang-orang yang layak (berkawin) dari hamba-hamba sahayamu yang<br />
laki-laki dan perempuan. Jika mereka miskin Allah akan memampukan mereka<br />
dengan karunia-Nya. Dan Allah Maha Luas (pemberian-Nya) lagi Maha<br />
Mengetahui&#8221;. (An-Nur : 32).</p>
<p>Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam menguatkan janji Allah itu<br />
dengan sabdanya :<br />
&#8220;Artinya : Ada tiga golongan manusia yang berhak Allah tolong mereka,<br />
yaitu seorang mujahid fi sabilillah, seorang hamba yang menebus dirinya<br />
supaya merdeka, dan seorang yang menikah karena ingin memelihara<br />
kehormatannya&#8221;. (Hadits Riwayat Ahmad 2 : 251, Nasa&#8217;i, Tirmidzi, Ibnu<br />
Majah hadits No. 2518, dan Hakim 2 : 160 dari shahabat Abu Hurairah<br />
radliyallahu &#8216;anhu).</p>
<p>Para Salafus-Shalih sangat menganjurkan untuk nikah dan mereka anti<br />
membujang, serta tidak suka berlama-lama hidup sendiri.</p>
<p>Ibnu Mas&#8217;ud radliyallahu &#8216;anhu pernah berkata : &#8220;Jika umurku tinggal<br />
sepuluh hari lagi, sungguh aku lebih suka menikah daripada aku harus<br />
menemui Allah sebagai seorang bujangan&#8221;. (Ihya Ulumuddin dan Tuhfatul<br />
&#8216;Arus hal. 20).</p>
<p><strong>TUJUAN PERKAWINAN DALAM ISLAM</strong></p>
<p><em><strong>1. Untuk Memenuhi Tuntutan Naluri Manusia Yang Asasi</strong></em></p>
<p>Di tulisan terdahulu [bagian kedua] kami sebutkan bahwa perkawinan<br />
adalah fitrah manusia, maka jalan yang sah untuk memenuhi kebutuhan ini<br />
yaitu dengan aqad nikah (melalui jenjang perkawinan), bukan dengan cara<br />
yang amat kotor menjijikan seperti cara-cara orang sekarang ini dengan<br />
berpacaran, kumpul kebo, melacur, berzina, lesbi, homo, dan lain<br />
sebagainya yang telah menyimpang dan diharamkan oleh Islam.</p>
<p><em><strong>2. Untuk Membentengi Ahlak Yang Luhur.</strong></em></p>
<p>Sasaran utama dari disyari&#8217;atkannya perkawinan dalam Islam di antaranya<br />
ialah untuk membentengi martabat manusia dari perbuatan kotor dan keji,<br />
yang telah menurunkan dan meninabobokan martabat manusia yang luhur.<br />
Islam memandang perkawinan dan pembentukan keluarga sebagai sarana<br />
efefktif untuk memelihara pemuda dan pemudi dari kerusakan, dan<br />
melindungi masyarakat dari kekacauan. Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa<br />
sallam bersabda :<br />
&#8220;Artinya : Wahai para pemuda ! Barangsiapa diantara kalian berkemampuan<br />
untuk nikah, maka nikahlah, karena nikah itu lebih menundukan pandangan,<br />
dan lebih membentengi farji (kemaluan). Dan barangsiapa yang tidak<br />
mampu, maka hendaklah ia puasa (shaum), karena shaum itu dapat<br />
membentengi dirinya&#8221;. (Hadits Shahih Riwayat Ahmad, Bukhari, Muslim,<br />
Tirmidzi, Nasa&#8217;i, Darimi, Ibnu Jarud dan Baihaqi).</p>
<p><em><strong>3. Untuk Menegakkan Rumah Tangga Yang Islami.</strong></em></p>
<p>Dalam Al-Qur&#8217;an disebutkan bahwa Islam membenarkan adanya Thalaq<br />
(perceraian), jika suami istri sudah tidak sanggup lagi menegakkan<br />
batas-batas Allah, sebagaimana firman Allah dalan ayat berikut :<br />
&#8220;Artinya : Thalaq (yang dapat dirujuki) dua kali, setelah itu boleh<br />
rujuk lagi dengan cara ma&#8217;ruf atau menceraikan dengan cara yang bail.<br />
Tidak halal bagi kamu mengambil kembali dari sesuatu yang telah kamu<br />
berikan kepada mereka, kecuali kalau keduanya khawatir tidak akan dapat<br />
menjalankan hukum-hukum Allah, maka tidak ada dosa atas keduanya tentang<br />
bayaran yang diberikan oleh istri untuk menebus dirinya. Itulah<br />
hukum-hukum Allah, maka janganlah kamu melanggarnya. Barangsiapa yang<br />
melanggar hukum-hukum Allah mereka itulah orang-orang yang dhalim&#8221;.<br />
(Al-Baqarah : 229).</p>
<p>Yakni keduanya sudah tidak sanggup melaksanakan syari&#8217;at Allah. Dan<br />
dibenarkan rujuk (kembali nikah lagi) bila keduany sanggup menegakkan<br />
batas-batas Allah. Sebagaimana yang disebutkan dalam surat Al-Baqarah<br />
lanjutan ayat di atas :<br />
&#8220;Artinya : Kemudian jika si suami menthalaqnya (sesudah thalaq yang<br />
kedua), maka perempuan itu tidak halal lagi baginya hingga dikawin<br />
dengan suami yang lain. Kemudian jika suami yang lain itu<br />
menceraikannya, maka tidak ada dosa bagi keduanya (bekas suami yang<br />
pertama dan istri) untuk kawin kembali, jiak keduanya berpendapat akan<br />
dapat menjalankan hukum-hukum Allah, diternagkannya kepada kaum yang<br />
(mau) mengetahui &#8220;. (Al-Baqarah : 230).</p>
<p>Jadi tujuan yang luhur dari pernikahan adalah agar suami istri<br />
melaksanakan syari&#8217;at Sialm dalam rumah tangganya. Hukum ditegakkannya<br />
rumah tangga berdasarkan syari&#8217;at ISlam adalah WAJIB. Oleh karena itu<br />
setiap muslim dan muslimah yang ingin membina rumah tangga yang Islami,<br />
maka ajaran Islam telah memberikan beberapa kriteria tentang calon<br />
pasangan yang ideal :</p>
<p><em>a. Harus Kafa&#8217;ah.<br />
b. Shalihah.</em></p>
<p><em><strong>a. Kafa&#8217;ah Menurut Konsep Islam</strong></em></p>
<p>Pengaruh materialisme telah banyak menimpa orang tua. Tidak sedikit<br />
zaman sekarang ini orang tua yang memiliki pemikiran, bahwa di dalam<br />
mencari calon jodoh putra-putrinya, selalu mempertimbangkan keseimbangan<br />
kedudukan, status sosial dan keturunan saja. Sementara pertimbangan<br />
agama kurang mendapat perhatian. Masalah Kufu&#8217; (sederajat, sepadan)<br />
hanya diukur lewat materi saja.</p>
<p>Menurut Islam, Kafa&#8217;ah atau kesamaan, kesepadanan atau sederajat dalam<br />
perkawinan, dipandang sangat penting karena dengan adanya kesamaan<br />
antara kedua suami istri itu, maka usaha untuk mendirikan dan membina<br />
rumah tangga yang Islami inysa Allah akan terwujud. Tetapi kafa&#8217;ah<br />
menurut Islam hanya diukur dengan kualitas iman dan taqwa serta ahlaq<br />
seseorang, status sosial , keturunan dan lain-lainnya. Allah memandang<br />
sama derajat seseorang baik itu orang Arab maupun non Arab, miskin atau<br />
kaya. Tidak ada perbedaan dari keduanya melainkan derajat taqwanya<br />
(Al-Hujurat : 13).<br />
&#8220;Artinya : Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang<br />
laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan<br />
bersuku-suku supaya kamu saling kenal mengenal. Sesungguhnya orang yang<br />
paling mulia diantara kamu di sisi Allah ialah orang-orang yang paling<br />
bertaqwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha<br />
Mengenal&#8221;. (Al-Hujurat : 13).</p>
<p>Dan mereka tetap sekufu&#8217; dan tidak ada halangan bagi mereka untuk<br />
menikah satu sama lainnya. Wajib bagi para orang tua, pemuda dan pemudi<br />
yang masih berfaham materialis dan mempertahanakan adat istiadat wajib<br />
mereka meninggalkannya dan kembali kepada Al-Qur&#8217;an dan Sunnah Nabi yang<br />
Shahih. Sabda Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam :<br />
&#8220;Artinya : Wanita dikawini karena empat hal : Karena hartanya, karena<br />
keturunannya, karena kecantikannya, dan karena agamanya. Maka hendaklah<br />
kamu pilih karena agamanya (ke-Islamannya), sebab kalau tidak demikian,<br />
niscaya kamu akan celaka&#8221;. (Hadits Shahi Riwayat Bukhari 6:123, Muslim<br />
4:175).</p>
<p><em><strong>b. Memilih Yang Shalihah</strong></em><br />
Orang yang mau nikah harus memilih wanita yang shalihan dan wanita harus<br />
memilih laki-laki yang shalih. Menurut Al-Qur&#8217;an wanita yang shalihah<br />
ialah :<br />
&#8220;Artinya : Wanita yang shalihah ialah yang ta&#8217;at kepada Allah lagi<br />
memelihara diri bila suami tidak ada, sebagaimana Allah telah memelihara<br />
(mereka)&#8221;. (An-Nisaa : 34).<br />
Menurut Al-Qur&#8217;an dan Al-Hadits yang Shahih di antara ciri-ciri wanita<br />
yang shalihah ialah :<br />
&#8220;Ta&#8217;at kepada Allah, Ta&#8217;at kepada Rasul, Memakai jilbab yang menutup<br />
seluruh auratnya dan tidak untuk pamer kecantikan (tabarruj) seperti<br />
wanita jahiliyah (Al-Ahzab : 32), Tidak berdua-duaan dengan laki-laki<br />
yang bukan mahram, Ta&#8217;at kepada kedua Orang Tua dalam kebaikan, Ta&#8217;at<br />
kepada suami dan baik kepada tetangganya dan lain sebagainya&#8221;.</p>
<p>Bila kriteria ini dipenuhi Insya Allah rumah tangga yang Islami akan<br />
terwujud. Sebagai tambahan, Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam<br />
menganjurkan untuk memilih wanita yang peranak dan penyayang agar dapat<br />
melahirkan generasi penerus umat.</p>
<p><em><strong>4. Untuk Meningkatkan Ibadah Kepada Allah.</strong></em></p>
<p>Menurut konsep Islam, hidup sepenunya untuk beribadah kepada Allah dan<br />
berbuat baik kepada sesama manusia. Dari sudut pandang ini, rumah tangga<br />
adalah salah satu lahan subur bagi peribadatan dan amal shalih di<br />
samping ibadat dan amal-amal shalih yang lain, sampai-sampai menyetubuhi<br />
istri-pun termasuk ibadah (sedekah).</p>
<p>Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam bersabda :<br />
&#8220;Artinya : Jika kalian bersetubuh dengan istri-istri kalian termasuk<br />
sedekah !. Mendengar sabda Rasulullah para shahabat keheranan dan<br />
bertanya : &#8220;Wahai Rasulullah, seorang suami yang memuaskan nafsu<br />
birahinya terhadap istrinya akan mendapat pahala ?&#8221; Nabi shallallahu<br />
alaihi wa sallam menjawab : &#8220;Bagaimana menurut kalian jika mereka (para<br />
suami) bersetubuh dengan selain istrinya, bukankah mereka berdosa .?<br />
&#8220;Jawab para shahabat :&#8221;Ya, benar&#8221;. Beliau bersabda lagi : &#8220;Begitu pula<br />
kalau mereka bersetubuh dengan istrinya (di tempat yang halal), mereka<br />
akan memperoleh pahala !&#8221;. (Hadits Shahih Riwayat Muslim 3:82, Ahmad<br />
5:1167-168 dan Nasa&#8217;i dengan sanad yang Shahih).</p>
<p><em><strong>5. Untuk Mencari Keturunan Yang Shalih.</strong></em></p>
<p>Tujuan perkawinan di antaranya ialah untuk melestarikan dan<br />
mengembangkan bani Adam, Allah berfirman :<br />
&#8220;Artinya : Allah telah menjadikan dari diri-diri kamu itu pasangan suami<br />
istri dan menjadikan bagimu dari istri-istri kamu itu, anak-anak dan<br />
cucu-cucu, dan memberimu rezeki yang baik-baik. Maka mengapakah mereka<br />
beriman kepada yang bathil dan mengingkari nikmat Allah ?&#8221;. (An-Nahl :<br />
72).</p>
<p>Dan yang terpenting lagi dalam perkawinan bukan hanya sekedar memperoleh<br />
anak, tetapi berusaha mencari dan membentuk generasi yang berkualitas,<br />
yaitu mencari anak yang shalih dan bertaqwa kepada Allah.</p>
<p>Tentunya keturunan yang shalih tidak akan diperoleh melainkan dengan<br />
pendidikan Islam yang benar. Kita sebutkan demikian karena banyak<br />
&#8220;Lembaga Pendidikan Islam&#8221;, tetapi isi dan caranya tidak Islami.<br />
Sehingga banyak kita lihat anak-anak kaum muslimin tidak memiliki ahlaq<br />
Islami, diakibatkan karena pendidikan yang salah. Oleh karena itu suami<br />
istri bertanggung jawab mendidik, mengajar, dan mengarahkan anak-anaknya<br />
ke jalan yang benar.</p>
<p>Tentang tujuan perkawinan dalam Islam, Islam juga memandang bahwa<br />
pembentukan keluarga itu sebagai salah satu jalan untuk merealisasikan<br />
tujuan-tujuan yang lebih besar yang meliputi berbagai aspek<br />
kemasyarakatan berdasarkan Islam yang akan mempunyai pengaruh besar dan<br />
mendasar terhadap kaum muslimin dan eksistensi umat Islam.</p>
<p><strong>TATA CARA PERKAWINAN DALAM ISLAM</strong></p>
<p>Islam telah memberikan konsep yang jelas tentang tata cara perkawinan<br />
berlandaskan Al-Qur&#8217;an dan Sunnah yang Shahih (sesuai dengan pemahaman<br />
para Salafus Shalih -peny), secara singkat penulis sebutkan dan jelaskan<br />
seperlunya :</p>
<p><em><strong>1. Khitbah (Peminangan)</strong></em><br />
Seorang muslim yang akan mengawini seorang muslimah hendaknya ia<br />
meminang terlebih dahulu, karena dimungkinkan ia sedang di pinang oleh<br />
orang lain, dalam hal ini Islam melarang seorang muslim meminang wanita<br />
yang sedang dipinang oleh orang lain (Muttafaq &#8216;alaihi). Dalam khitbah<br />
disunnahkan melihat wajah yang akan dipinang (Hadits Shahih Riwayat<br />
Ahmad, Abu Dawud, Tirmidzi No. 1093 dan Darimi).</p>
<p><em><strong>2. Aqad Nikah</strong></em><br />
Dalam aqad nikah ada beberapa syarat dan kewajiban yang harus dipenuhi :<br />
a. Adanya suka sama suka dari kedua calon mempelai.<br />
b. Adanya Ijab Qabul.<br />
c. Adanya Mahar.<br />
d. Adanya Wali.<br />
e. Adanya Saksi-saksi.<br />
Dan menurut sunnah sebelum aqad nikah diadakan khutbah terlebih dahulu<br />
yang dinamakan Khutbatun Nikah atau Khutbatul Hajat.</p>
<p><em><strong>3. Walimah</strong></em><br />
Walimatul &#8216;urusy hukumnya wajib dan diusahakan sesederhana mungkin dan<br />
dalam walimah hendaknya diundang orang-orang miskin. Rasulullah<br />
shallallahu &#8216;alaihi wa sallam bersabda tentang mengundang orang-orang<br />
kaya saja berarti makanan itu sejelk-jelek makanan.</p>
<p>Sabda Nabi shallallahu &#8216;alaihi wa sallam.<br />
&#8220;Artinya : Makanan paling buruk adalah makanan dalam walimah yang hanya<br />
mengundang orang-orang kaya saja untuk makan, sedangkan oran-orang<br />
miskin tidak diundang. Barangsiapa yang tidak menghadiri undangan<br />
walimah, maka ia durhaka kepada Allah dan Rasul-Nya&#8221;. (Hadits Shahih<br />
Riwayat Muslim 4:154 dan Baihaqi 7:262 dari Abu Hurairah).</p>
<p>Sebagai catatan penting hendaknya yang diundang itu orang-orang shalih,<br />
baik kaya maupun miskin, karena ada sabda Nabi shallallahu &#8216;alaihi wa<br />
sallam :<br />
&#8220;Artinya : Janganlah kamu bergaul melainkan dengan orang-orang mukmin<br />
dan jangan makan makananmu melainkan orang-orang yang taqwa&#8221;. (Hadist<br />
Shahih Riwayat Abu Dawud, Tirmidzi, Hakim 4:128 dan Ahmad 3:38 dari Abu<br />
Sa&#8217;id Al-Khudri).</p>
<p><strong>SEBAGIAN PENYELEWENGAN YANG TERJADI DALAM PERKAWINAN YANG WAJIB<br />
DIHINDARKAN/DIHILANGKAN.</strong></p>
<p><em><strong>1. PACARAN</strong></em></p>
<p>Kebanyakan orang sebelum melangsungkan perkawinan biasanya &#8220;Berpacaran&#8221;<br />
terlebih dahulu, hal ini biasanya dianggap sebagai masa perkenalan<br />
individu, atau masa penjajakan atau di anggap sebagai perwujudan rasa<br />
cinta kasih terhadap lawan jenisnya.</p>
<p>Adanya anggapan seperti ini, kemudian melahirkan konsesus bersama antar<br />
berbagai pihak untuk menganggap masa berpacaran sebagai sesuatu yang<br />
lumrah dan wajar-wajar saja. Anggapan seperti ini adalah anggapan yang<br />
salah dan keliru. Dalam berpacaran sudah pasti tidak bisa dihindarkan<br />
dari berintim-intim dua insan yang berlainan jenis, terjadi pandang<br />
memandang dan terjadi sentuh menyentuh, yang sudah jelas semuanya haram<br />
hukumnya menurut syari&#8217;at Islam.</p>
<p>Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam bersabda :<br />
&#8220;Artinya : Jangan sekali-kali seorang laki-laki bersendirian dengan<br />
seorang perempuan, melainkan si perempuan itu bersama mahramnya&#8221;.<br />
(Hadits Shahih Riwayat Ahmad, Bukhari dan Muslim).</p>
<p>Jadi dalam Islam tidak ada kesempatan untuk berpacaran dan berpacaran<br />
hukumnya haram.</p>
<p><em><strong>2. Tukar Cincin.</strong></em></p>
<p>Dalam peminangan biasanya ada tukar cincin sebagai tanda ikatan, hal ini<br />
bukan dari ajaran Islam. (Lihat Adabuz-Zafat, nashiruddin Al-Bani)</p>
<p><em><strong>3. Menuntut Mahar Yang Tinggi.</strong></em></p>
<p>Menurut Islam sebaik-baik mahar adalah yang murah dan mudah, tidak<br />
mempersulit atau mahal. Memang mahar itu hak wanita, tetapi Islam<br />
menyarankan agar mempermudah dan melarang menuntut mahar yang tinggi.</p>
<p>Adapun cerita teguran seorang wanita terhadap Umar bin Khattab yang<br />
membatasi mahar wanita, adalah cerita yang salah karena riwayat itu<br />
sangat lemah. (Lihat Irwa&#8217;ul Ghalil 6, hal. 347-348).</p>
<p><em><strong>4.Mengikuti Upacara Adat.</strong></em></p>
<p>Ajaran dan peraturan Islam harus lebih tinggi dari segalanya. Setiap<br />
acara, upacara dan adat istiadat yang bertentangan dengan Islam, maka<br />
wajib untuk dihilangkan. Umumnya umat Islam dalam cara perkawinan selalu<br />
meninggikan dan menyanjung adat istiadat setempat, sehingga<br />
sunnah-sunnah Nabi shallallahu &#8216;alaihi wa sallam yang benar dan shahih<br />
telah mereka matikan dan padamkan.</p>
<p>Sungguh sangat ironis&#8230;!. Kepada mereka yang masih menuhankan adat<br />
istiadat jahiliyah dan melecehkan konsep Islam, berarti mereka belum<br />
yakin kepada Islam.</p>
<p>Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala berfirman :<br />
&#8220;Artinya : Apakah hukum jahiliyah yang mereka kehendaki, dan (hukum)<br />
siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang<br />
yakin ?&#8221;. (Al-Maaidah : 50).</p>
<p>Orang-orang yang mencari konsep, peraturan, dan tata cara selain Islam,<br />
maka semuanya tidak akan diterima oleh Allah dan kelak di Akhirat mereka<br />
akan menjadi orang-orang yang merugi, sebagaimana firman Allah Ta&#8217;ala :<br />
&#8220;Artinya : Barangsiapa yang mencari agama selain agama Islam, maka<br />
sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya, dan dia di<br />
akhirat termasuk orang-orang yang rugi&#8221;. (Ali-Imran : 85).</p>
<p><em><strong>5. Mengucapkan Ucapan Selamat Ala Kaum Jahiliyah.</strong></em></p>
<p>Kaum jahiliyah selalu menggunakan kata-kata Birafa&#8217; Wal Banin, ketika<br />
mengucapkan selamat kepada kedua mempelai. Ucapan Birafa&#8217; Wal Banin<br />
(=semoga mempelai murah rezeki dan banyak anak) dilarang oleh Islam.</p>
<p>Dari Al-Hasan, bahwa &#8216;Aqil bin Abi Thalib nikah dengan seorang wanita<br />
dari Jasyam. Para tamu mengucapkan selamat dengan ucapan jahiliyah :<br />
Birafa&#8217; Wal Banin. &#8216;Aqil bin Abi Thalib melarang mereka seraya berkata :<br />
&#8220;Janganlah kalian ucapkan demikian !. Karena Rasulullah shallallhu<br />
&#8216;alaihi wa sallam melarang ucapan demikian&#8221;. Para tamu bertanya :&#8221;Lalu<br />
apa yang harus kami ucapkan, wahai Abu Zaid ?&#8221;. &#8216;Aqil menjelaskan :<br />
&#8220;Ucapkanlah : Barakallahu lakum wa Baraka &#8216;Alaiykum&#8221; (= Mudah-mudahan<br />
Allah memberi kalian keberkahan dan melimpahkan atas kalian keberkahan).<br />
Demikianlah ucapan yang diperintahkan Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa<br />
sallam&#8221;. (Hadits Shahih Riwayat Ibnu Abi Syaibah, Darimi 2:134, Nasa&#8217;i,<br />
Ibnu Majah, Ahmad 3:451, dan lain-lain).</p>
<p>Do&#8217;a yang biasa Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam ucapkan kepada<br />
seorang mempelai ialah :<br />
&#8220;Baarakallahu laka wa baarakaa &#8216;alaiyka wa jama&#8217;a baiynakumaa fii khoir&#8221;<br />
Do&#8217;a ini berdasarkan hadits shahih yang diriwayatkan dari Abu Hurairah:<br />
&#8216;Artinya : Dari Abu hurairah, bahwasanya Nabi shallallahu &#8216;alaihi wa<br />
sallam jika mengucapkan selamat kepada seorang mempelai, beliau<br />
mengucapkan do&#8217;a : (Baarakallahu laka wabaraka &#8216;alaiyka wa jama&#8217;a<br />
baiynakuma fii khoir) = Mudah-mudahan Allah memberimu keberkahan,<br />
Mudah-mudahan Allah mencurahkan keberkahan atasmu dan mudah-mudahan Dia<br />
mempersatukan kamu berdua dalam kebaikan&#8221;. (Hadits Shahih Riwayat Ahmad<br />
2:38, Tirmidzi, Darimi 2:134, Hakim 2:183, Ibnu Majah dan Baihaqi<br />
7:148).</p>
<p><em><strong>6. Adanya Ikhtilath.</strong></em></p>
<p>Ikhtilath adalah bercampurnya laki-laki dan wanita hingga terjadi<br />
pandang memandang, sentuh menyentuh, jabat tangan antara laki-laki dan<br />
wanita. Menurut Islam antara mempelai laki-laki dan wanita harus<br />
dipisah, sehingga apa yang kita sebutkan di atas dapat dihindari<br />
semuanya.</p>
<p><em><strong>7. Pelanggaran Lain.</strong></em></p>
<p>Pelanggaran-pelanggaran lain yang sering dilakukan di antaranya adalah<br />
musik yang hingar bingar.</p>
<p><strong>KHATIMAH</strong></p>
<p>Rumah tangga yang ideal menurut ajaran Islam adalah rumah tangga yang<br />
diliputi Sakinah (ketentraman jiwa), Mawaddah (rasa cinta) dan Rahmah<br />
(kasih sayang), Allah berfirman :<br />
&#8220;Artinya : Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan<br />
untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu hidup tentram<br />
bersamanya. Dan Dia (juga) telah menjadikan di antaramu (suami, istri)<br />
rasa cinta dan kasih sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu<br />
benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir&#8221;. (Ar-Ruum :<br />
21).</p>
<p>Dalam rumah tangga yang Islami, seorang suami dan istri harus saling<br />
memahami kekurangan dan kelebihannya, serta harus tahu pula hak dan<br />
kewajibannya serta memahami tugas dan fungsiya masing-masing yang harus<br />
dilaksanakan dengan penuh tanggung jawab.</p>
<p>Sehingga upaya untuk mewujudkan perkawinan dan rumah tangga yang<br />
mendapat keridla&#8217;an Allah dapat terealisir, akan tetapi mengingat<br />
kondisi manusia yang tidak bisa lepas dari kelemahan dan kekurangan,<br />
sementara ujian dan cobaan selalu mengiringi kehidupan manusia, maka<br />
tidak jarang pasangan yang sedianya hidup tenang, tentram dan bahagia<br />
mendadak dilanda &#8220;kemelut&#8221; perselisihan dan percekcokan.</p>
<p>Bila sudah diupayakan untuk damai sebagaimana yang disebutkan dalam<br />
Al-Qur&#8217;an surat An-Nisaa : 34-35, tetapi masih juga gagal, maka Islam<br />
memberikan jalan terakhir, yaitu &#8220;perceraian&#8221;.</p>
<p>Marilah kita berupaya untuk melakasanakan perkawinan secara Islam dan<br />
membina rumah tangga yang Islami, serta kita wajib meninggalkan aturan,<br />
tata cara, upacara dan adat istiadat yang bertentangan dengan Islam.<br />
Ajaran Islam-lah satu-satunya ajaran yang benar dan diridlai oleh Allah<br />
Subhanahu wa Ta&#8217;ala (Ali-Imran : 19).<br />
&#8220;Artinya : Ya Tuhan kami, anugrahkanlah kepada kami istri-istri dan<br />
keturunan yang menyejukkan hati kami, dan jadikanlah kami Imam bagi<br />
orang-orang yang bertaqwa&#8221;. (Al-Furqan ; 25:74 ).</p>
<p>Amiin.</p>
<p>Wallahu a&#8217;alam bish shawab.</p>
<p>oleh<br />
Yazid bin Abdul Qadir Jawas</p>
<p><em>Yathie<br />
(Ingati bila Sunyi, Rindui bila Jauh, Fahami bila Keliru, Nasehati bila<br />
Lalai dan Maafkan bila Terluka. Alangkah Indahnya ukhuwah bila sgalanya<br />
karena Allah SWT)</em><br />
<em>sumber :  http://cahaya.blog.m3-access.com/posts/35868_NASIHAT-PERKAWINAN.html</em></p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/titikbalik.wordpress.com/76/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/titikbalik.wordpress.com/76/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/titikbalik.wordpress.com/76/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/titikbalik.wordpress.com/76/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/titikbalik.wordpress.com/76/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/titikbalik.wordpress.com/76/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/titikbalik.wordpress.com/76/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/titikbalik.wordpress.com/76/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/titikbalik.wordpress.com/76/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/titikbalik.wordpress.com/76/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/titikbalik.wordpress.com/76/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/titikbalik.wordpress.com/76/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=titikbalik.wordpress.com&blog=1348603&post=76&subd=titikbalik&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://titikbalik.wordpress.com/2007/07/17/nasihat-perkawinan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/bc2cb95a1de5837de7ebbb19e86e8559?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">ayudansigit</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Membangun Keluarga Yg Shaleh</title>
		<link>http://titikbalik.wordpress.com/2007/07/17/membangun-keluarga-yang-shaleh/</link>
		<comments>http://titikbalik.wordpress.com/2007/07/17/membangun-keluarga-yang-shaleh/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 17 Jul 2007 03:41:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ayudansigit</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tanya Jawab]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://titikbalik.wordpress.com/2007/07/17/membangun-keluarga-yang-shaleh/</guid>
		<description><![CDATA[Ustadz, insya Allah dalam waktu dekat saya akan menikah. Saya mohon penjelasan berdasarkan Al Qur&#8217;an dan hadits mengenai fondasi apa saja yang harus kita bangun untuk menciptakan keluarga yang shaleh.
-Elza-

Jawab :
Mempunyai keluarga yang shaleh merupakan cita-cita semua orang. Untuk mewujudkannya butuh kesungguhan, kesabaran, dan keuletan dari suami dan isteri. Berikut sejumlah keterangan dari Al Qur&#8217;an [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=titikbalik.wordpress.com&blog=1348603&post=75&subd=titikbalik&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p align="justify">Ustadz, insya Allah dalam waktu dekat saya akan menikah. Saya mohon penjelasan berdasarkan Al Qur&#8217;an dan hadits mengenai fondasi apa saja yang harus kita bangun untuk menciptakan keluarga yang shaleh.</p>
<p>-Elza-<strong></p>
<p></strong></p>
<p>Jawab :</p>
<p>Mempunyai keluarga yang shaleh merupakan cita-cita semua orang. Untuk mewujudkannya butuh kesungguhan, kesabaran, dan keuletan dari suami dan isteri. Berikut sejumlah keterangan dari Al Qur&#8217;an dan hadits tentang bagaimana dasar-dasar keluarga yang shaleh itu.</p>
<p><span id="more-75"></span></p>
<p><strong>1. Selalu bersyukur saat mendapat nikmat</strong></p>
<p>Kalau kita mendapat karunia dari Allah swt. berupa harta, ilmu, anak, dll., bersyukurlah kepada-Nya atas segala nikmat yang telah diberikan tersebut supaya apa yang ada pada genggaman kita itu berbarakah.</p>
<p><em>“Sesungguhnya jika kamu bersyukur (atas segala nikmat yang diberikan), pasti Allah akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya adzab-Ku sangat pedih.”</em> (Q.S. Ibrahim 14 : 7)</p>
<p><strong>2. Senantiasa bersabar saat ditimpa kesulitan</strong></p>
<p>Semua orang pasti mengharapkan bahwa jalan kehidupannya selalu lancar dan bahagia, namun kenyataannya tidaklah demikian. Sangat mungkin dalam kehidupan berkeluarga kita menghadapi sejumlah kesulitan dan ujian; berupa kekurangan harta, ditimpa penyakit, dll. Nah, sabar merupakan fondasi yang harus kita bangun agar keluarga kita tetap bahagia walaupun sedang ditimpa musibah .</p>
<p><em>“Bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu, sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan Allah.” </em> (Q.S. Lukman 31: 17)</p>
<p><strong>3. Bertawakal saat memiliki rencana</strong></p>
<p>Allah sangat suka kepada orang-orang yang melakukan sesuatu secara terencana. Nabi Muhammad saw. kalau mau melakukan sesuatu yang penting selalu bermusyawarah dengan para shahabatnya. Musyawarah merupakan bagian dari proses perencanaan. Alangkah indahnya apabila suami-isteri selalu bermusyawarah dalam merencanakan hal-hal yang dianggap penting dalam kehidupan berumah tangga, misalnya masalah pendidikan anak, tempat tinggal, dll. Kalau kita punya suatu rencana, jangan lupa hasilnya kita pasrahkan semua kepada Allah swt., itulah yang disebut tawakal.</p>
<p><em>“Kemudian, apabila kamu telah membulatkan tekad (menghadapi suatu rencana) maka bertawakallah kepada Allah swt. Sesungguhnya Allah menyukai orang yang bertawakkal.” </em> (Q.S. Ali Imran 3: 159)</p>
<p><strong>4. Bermusyawarah  </strong></p>
<p>Suami adalah leader atau pemimpin dalam rumah tangga. Seorang pemimpin harus berani mengambil keputusan-keputusan strategis. Alangkah mulia kalau suami sebagai pemimpin selalu mengajak bermusyawarah kepada isteri dan anak-anaknya dalam mengambil keputusan-keputusan penting yang menyangkut urusan keluarga. Hindarkan diri dari sikap otoriter, insya Allah hasil musyawarah itu akan lebih baik.</p>
<p><em>“&#8230;Dan segala persoalan, diputuskan dengan musyawarah di antara mereka&#8230;”</em> (Q.S. Asy-Syuura 42 : 38)</p>
<p><strong>5. Tolong menolong dalam kebaikan</strong></p>
<p>Menurut Aisyah r.a., Rasulullah saw. sebagai suami selalu menolong pekerjaan isterinya. Beliau tidak segan untuk mengerjakan pekerjaan yang biasa dilakukan wanita seperti mencuci piring/baju, menggendong anak, dll. Nah, kalau kita ingin membangun keluarga yang shaleh, maka suami harus berusaha meringankan beban isteri, begitu juga sebaliknya. Jadikan tolong menolong sebagai hiasan rumah tangga.</p>
<p><em>“Dan tolong menolonglah kamu dalam mengerjakan kebaikan dan takwa, dan jangan tolong menolong dalam perbuatan dosa dan pelanggaran &#8230;.” </em> (Q.S. Al-Maidah 4 : 2)</p>
<p><strong>6.  Senantiasa memenuhi janji. </strong></p>
<p>Memenuhi janji merupakan bukti kemuliaan seseorang. Sedalam apapun ilmu kita, setinggi apapun kedudukan kita, tapi kalau sering menyalahi janji tentu orang tidak akan lagi percaya kepada kita. Bagaimana kita akan menjadi suami yang dihargai isteri dan anak-anak kalau kita sering menyalahi janji kepada mereka?</p>
<p><em>“Hai orang-orang yang beriman, penuhilah janji-janji.”</em> (Q.S. Al-Maidah 4:1)</p>
<p><strong>7. Segera bertaubat bila terlanjur melakukan kesalahan </strong></p>
<p>Dalam mengarungi bahtera rumah tangga, tak jarang suami atau isteri terjerumus pada kesalahan. Itu tidak dapat dipungkiri. Apabila suami/istri melakukan kesalahan, hendaklah segera bertaubat dari kesalahan itu.</p>
<p><em>“Dan orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka, dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui.”</em> (Q.S. Ali &#8216;Imran 3 : 135)</p>
<p><strong>8. Saling Menasihati</strong></p>
<p>Untuk membentuk keluarga yang shaleh, tentunya dibutuhkan sikap lapang dada dari masing-masing pasangan untuk dapat menerima nasihat ataupun memberikan nasihat kepada pasangannya.</p>
<p><em>“Demi waktu. Sesungguhnya manusia itu benar-benar merugi. Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shaleh dan saling menasihati supaya menaati kebenaran dan saling menasihati dalam hal kesabaran.” </em> (Q.S. Al-&#8217;Ashr 103: 1-3)</p>
<p><strong>9. Saling memberi maaf dan tidak segan untuk minta maaf kalau melakukan kekeliruan.</strong></p>
<p><em>“Dan orang-orang yang menahan amarahnya dan mema&#8217;afkan kesalahan orang lain. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebaikan.”</em>  (Q.S. Ali &#8216;Imran 3 : 134)</p>
<p><strong>10.  Suami Istri selalu berprasangka baik </strong></p>
<p>Suami-istri hendaknya selalu berprasangka baik terhadap pasangannya. Sesungguhnya prasangka baik akan lebih menentramkan hati, sehingga konflik dalam keluarga lebih dapat diminimalisir.</p>
<p><em>“Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain, dan janganlah sebagian kamu menggunjing sebagian yang lain.” </em> (Q.S. Al-Hujurat 49 : 12)</p>
<p><strong>11.  Mempererat silaturrahmi dengan keluarga isteri atau suami.</strong></p>
<p><em>“Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku, supaya kamu saling mengenal.”</em> (Q.S. Al-Hujurat 49 : 13)</p>
<p><strong>12. Melakukan ibadah secara berjamaah.</strong></p>
<p>Dengan melaksanakan ibadah secara berjama’ah, ikatan batin antara suami-istri akan terasa lebih erat. Di samping itu, pahala yang dijanjikan Allah pun begitu besar.</p>
<p><em>“Shalat berjama&#8217;ah lebih utama dua puluh tujuh derajat daripada Shalat sendiri-sendiri.” </em>(H.R. Mutafaq&#8217;Alaihi)</p>
<p><strong>13.    Mencintai keluarga isteri atau suami sebagaimana mencintai keluarga sendiri. </strong></p>
<p>Berlaku adil atau tidak berat sebelah adalah hal mesti dijalankan oleh masing-masing pasangan agar tercipta suasana saling menghormati dalam rumah tangga.</p>
<p><em>“Tidak sempurna iman seseorang di antara kamu, sehingga mencintai saudaranya (keluarga, sahabat, dan sebagainya) seperti mencintai dirinya sendiri.”,</em> (HR. Muslim)</p>
<p><strong>14.  Memberi kesempatan kepada suami atau istri untuk menambah ilmu </strong></p>
<p>Kewajiban mencari ilmu melekat kepada siapa pun termasuk kepada suami isteri, sebagaimana dijelaskan oleh Rasulullah saw.</p>
<p><em>“Mencari ilmu itu wajib bagi setiap muslim.”,</em> (HR. Muslim)</p>
<p>Apabila keempat belas hal di atas dikerjakan secara konsekuen oleh masing-masing pasangan, insya Allah akan tercipta keluarga yang menjadi penyejuk hati.</p>
<p><em>Wallahu A&#8217;lam</em></p>
<p>-Aam Amiruddin-</p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/titikbalik.wordpress.com/75/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/titikbalik.wordpress.com/75/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/titikbalik.wordpress.com/75/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/titikbalik.wordpress.com/75/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/titikbalik.wordpress.com/75/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/titikbalik.wordpress.com/75/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/titikbalik.wordpress.com/75/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/titikbalik.wordpress.com/75/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/titikbalik.wordpress.com/75/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/titikbalik.wordpress.com/75/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/titikbalik.wordpress.com/75/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/titikbalik.wordpress.com/75/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=titikbalik.wordpress.com&blog=1348603&post=75&subd=titikbalik&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://titikbalik.wordpress.com/2007/07/17/membangun-keluarga-yang-shaleh/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/bc2cb95a1de5837de7ebbb19e86e8559?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">ayudansigit</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Prinsip-prinsip Dasar Perkawinan</title>
		<link>http://titikbalik.wordpress.com/2007/07/17/prinsip-prinsip-dasar-perkawinan/</link>
		<comments>http://titikbalik.wordpress.com/2007/07/17/prinsip-prinsip-dasar-perkawinan/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 17 Jul 2007 03:21:12 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ayudansigit</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pilar-pilar]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://titikbalik.wordpress.com/2007/07/17/prinsip-prinsip-dasar-perkawinan/</guid>
		<description><![CDATA[Prinsip-prinsip dasar perkawinan Islam yang harus diketahui oleh
seorang konselor perkawinan dapat diru-muskan sebagai berikut:
1.Dalam memilih calon suami/isteri, faktor agama/akhlak calon harus
menjadi pertimbangan pertama sebelum keturunan, rupa dan harta,
sebagaimana di-ajarkan oleh Rasul.
artinya: Wanita itu dinikahi karena empat pertimbangan, kekayaannya,
nasabnya, kecantikannya dan agamanya. Pilihlah wanita yang beragama
niscaya kalian beruntung. (H.R. Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah)
artinya: Pilihlah [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=titikbalik.wordpress.com&blog=1348603&post=74&subd=titikbalik&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Prinsip-prinsip dasar perkawinan Islam yang harus diketahui oleh<br />
seorang konselor perkawinan dapat diru-muskan sebagai berikut:</p>
<p>1.Dalam memilih calon suami/isteri, faktor agama/akhlak calon harus<br />
menjadi pertimbangan pertama sebelum keturunan, rupa dan harta,<br />
sebagaimana di-ajarkan oleh Rasul.</p>
<p>artinya: Wanita itu dinikahi karena empat pertimbangan, kekayaannya,<br />
nasabnya, kecantikannya dan agamanya. Pilihlah wanita yang beragama<br />
niscaya kalian beruntung. (H.R. Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah)<br />
artinya: Pilihlah gen bibit keturunanmu, karena darah (kualitas<br />
manusia) itu menurun. (H.R. Ibnu Majah).</p>
<p>2. Bahwa nikah atau hidup berumah tangga itu merupakan sunnah Rasul<br />
bagi yang sudah mampu. Dalam kehidup-an berumah tangga terkandung<br />
banyak sekali keuta-maan yang bernilai ibadah, menyangkut aktualisasi<br />
diri sebagai suami/isteri, sebagai ayah/ibu dan sebagainya. Bagi<br />
yang belum mampu disuruh bersabar dan berpuasa, tetapi jika dorongan<br />
nikah sudah tidak terkendali pada-hal ekonomi belum siap, sementara ia<br />
takut terjerumus pada perzinaan, maka agama menyuruh agar ia menikah<br />
saja, Insya Allah rizki akan datang kepada orang yang memiliki<br />
semangat menghindari dosa, entah dari mana datangnya (min haitsu la<br />
yahtasib).</p>
<p><span id="more-74"></span></p>
<p>Nabi bersabda:<br />
artinya: Wahai pemuda, barang siapa diantara kalian sudah mampu untuk<br />
menikah nikahlah, karena nikah itu dapat mengendalikan mata (yang<br />
jalang) dan memelihara kesucian kehormatan (dari berzina), dan barang<br />
siapa yang belum siap, hendaknya ia berpuasa, karena puasa bisa<br />
menjadi obat (dari dorongan nafsu). (H.R. Bukhari Muslim)</p>
<p>artinya : Kawinkanlah orang-orang yang masih sendirian diantara<br />
kamu, dan orang-orang yang layak nikah diantara hamba-hamba sahayamu<br />
yang laki dan yang perempuan. Jika mereka fakir, Allah akan<br />
memampukan mereka dengan karunia Nya. Allah Maha Luas (pemberiannya)<br />
lagi Maha Mengetahui. (Surat al Nur, 32)</p>
<p>3. Bahwa tingkatan ekonomi keluarga itu berhubungan dengan<br />
kesungguhan berusaha, kemampuan mengelola (managemen) dan berkah dari<br />
Allah SWT. Ada keluarga yang ekonominya pas-pasan tetapi hidupnya<br />
bahagia dan anak-anaknya bisa sekolah sampai ke jenjang ting-gi,<br />
sementara ada keluarga yang serba berkecukupan materi tetapi<br />
suasananya gersang dan banyak urusan keluarga dan pendidikan anak<br />
terbengkalai. Berkah artinya terkum-pulnya kebaikan ilahiyyah pada<br />
sese-orang/ke-luarga/masyarakat seperti terkumpulnya air di dalam<br />
kolam. Secara sosiologis, berkah artinya terdayagunanya nikmat Tuhan<br />
secara optimal. Berkah dalam hidup tidak datang dengan sendirinya<br />
tetapi harus diupayakan.</p>
<p>Firman Allah :<br />
artinya: Sekiranya penduduk negeri-negeri itu beriman dan ber-taqwa,<br />
niscaya Kami akanmelimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan<br />
dari bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami<br />
akan sisksa mereka disebabkan oleh perbuatan mereka. (Surat al A&#8217;raf,<br />
96)</p>
<p>artinya: Allah menyayangi orang yang bekerja secara halal,<br />
membelanjakan hasilnya secara sederhana, dan mengutamakan sisa<br />
(tabungan) untuk kekurangan dan kebutuhannya (di waktu mendatang).<br />
(H.R. Ibn. Najjar dari Aisyah).</p>
<p>4. Suami isteri itu bagaikan pakaian dan pemakainya. Antara keduanya<br />
harus ada kesesuaian ukuran, kese-suaian mode, asesoris dan<br />
pemeliharaan kebersihan. Layaknya pakaian, masing-masing suami dan<br />
isteri ha-rus bisa menjalankan fungsinya sebagai (a) penutup aurat<br />
(sesuatu yang memalukan) dari pandangan orang lain, (b) pelindung<br />
dari panas dinginnya kehidupan, dan (c) kebanggan dan keindahan bagi<br />
pasangannya. Dalam keadaan tertentu pakaian mungkin bisa diper-kecil,<br />
dilonggarkan, ditambah asesoris dan sebagainya, Mengatasi perbedaan<br />
selera, kecenderungan dan hidup antara suami isteri, diperlukan<br />
pengorbanan kedua belah pihak. Masing-masing harus bertanya: Apa yang<br />
dapat saya berikan, bukan apa yang saya mau.</p>
<p>artinya: Mereka (isteri-isterimu) adalah (ibarat) pakaian kalian, dan<br />
kalian adalah (ibarat) pakaian mereka. (Surat al Baqarah 187)<br />
artinya: Sebaik-baik kamu adalah orang yang paling baik terhadap<br />
isterinya, dan aku (Nabi) adalah orang yang paling baik terhadap<br />
isteri. (H.R. Turmuzi dari Aisyah)</p>
<p>5. Bahwa cinta dan kasih sayang (mawaddah dan rahmah) merupakan sendi<br />
dan perekat rumah tangga yang sangat penting. Cinta adalah sesuatu<br />
yang suci, anuge-rah Tuhan dan sering tidak rationil. Cinta dipenuhi<br />
nuansa memaklumi dan memaafkan. Kesabaran, ke-setiaan, pengertian,<br />
pemberian dan pengorbanan akan mendatangkan/menyuburkan cinta,<br />
sementara penyelewengan, egoisme, kikir dan kekasaran akan<br />
menghilangkan rasa cinta. Hukama berkata:</p>
<p>artinya: Tanda-tanda cinta sejati ialah (1) engkau lebih suka<br />
berbicara dengan dia (yang kau cintai) dibanding berbicara dengan<br />
orang lain, (2) engkau lebih suka duduk berduaan dengan dia dibanding<br />
dengan orang lain, dan (3) engkau lebih suka mengikuti kemauan dia<br />
dibanding kemauan orang lain/diri sendiri).</p>
<p>artinya: &#8230;..Sekiranya engkau (Nabi) kasar dan keras hati ( kepada<br />
sahabat-sahabatnya), niscaya mereka lari dari sisimu. (Surat Ali<br />
Imran, 159)</p>
<p>artinya: Tidak bisa memuliakan wanita kecuali lelaki yang mulia, dan<br />
tidak sanggup menghinakan wanita kecuali lelaki yang tercela. (Hadis)</p>
<p>6. Bahwa salah satu fungsi perkawinan adalah untuk me-nyalurkan hasrat<br />
seksual secara sehat, benar dan halal. Hubungan suami isteri<br />
(persetubuhan) merupakan hak azazi, kewajiban dan kebutuhan bagi<br />
kedua belah pihak. Persetubuhan yang memenuhi tiga syarat (sehat,<br />
benar dan halal) itulah yang berkualitas, dan dapat menda-tangkan<br />
ketenteraman (sakinah).</p>
<p>Oleh karena itu, masing-masing suami isteri harus menyadari bahwa hal<br />
itu bukan hanya hak bagi dirinya, tetapi juga hak bagi yang lain dan<br />
kewajiban bagi dirinya. Dalam Islam, hubungan seksual yang benar dan<br />
halal adalah ibadah.</p>
<p>Firman Allah :<br />
artinya: Dan diantara tanda-tanda kekuasan Nya ialah Dia menciptakan<br />
untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan<br />
merasa tenteram kepadanya, dan Dia menjadikan rasa kasih sayang<br />
diantaramu. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat<br />
tanda-tanda bagi kaum yang berfikir. (Surat ar Rum, 21)</p>
<p>artinya: Nabi bersabda, Persetubuhanmu dengan isterimu itu mem-peroleh<br />
pahala. Para sahabat bertanya; Apakah orang yang menya-lurkan<br />
syahwatnya dapat pahala? Nabi menjawab : Tidakkah kalian tahu bahwa<br />
jika ia menyalurkan hasratnya di tempat yang haram, maka ia berdosa?<br />
Nah, demikian pula jika menyalurkan hasratnya kepada isterinya yang<br />
halal, maka ia memperoleh pahala. (H.R. Muslim)</p>
<p>7. Bahwa pergaulan dalam rumah tangga juga membu-tuhkan suasana<br />
dinamis, dialog dan saling menghargai. Kekurangan keuangan keluarga<br />
misalnya, oleh orang bijak dapat dijadikan sarana untuk menciptakan<br />
suasana dinamis dalam keluarga. Sebaliknya suasana mapan yang lama<br />
(baik mapan cukup maupun mapan dalam kekurangan) dapat menimbulkan<br />
suasana rutin yang menjenuhkan. Oleh karena itu suami isteri harus<br />
pan-dai menciptakan suasana baru, baru dan diperbaharui lagi, karena<br />
faktor kebaruan secara psikologis membuat hidup menjadi menarik.<br />
Kebaruan tidak mesti dengan mendatangkan hal-hal yang baru, tetapi<br />
bisa juga barang lama dengan kemasan baru.</p>
<p>8. Salah satu penyebab kehancuran rumah tangga adalah adanya orang<br />
ketiga bagi suami atau bagi isteri (other women/man). Datangnya orang<br />
ketiga dalam rumah tangga bisa disebabkan karena kelalaian/kurang was-<br />
pada (misalnya kasus adik ipar atau pembantu), atau karena pergaulan<br />
terlalu bebas (ketemu bekas pacar atau teman sekerja), atau karena<br />
ketidak puasan kehidupan seksual, atau karena kejenuhan rutinitas.<br />
Suami/isteri harus saling mempercayai, tetapi harus waspada terhadap<br />
kemungkinan masuknya virus orang ketiga.</p>
<p>Artinya: &#8220;Nabi melarang seorang lelaki memasuki kamar wanita yang<br />
bukan muhrim. Seorang sahabat menanyakan boleh tidaknya memasuki<br />
kamar saudara ipar. Nabi men-jawab: Masuk ke kamar ipar itu sama<br />
dengan maut (berbahaya).&#8221; (Hadis)</p>
<p>artinya: Tidak halal bagi seorang wanita yang beriman kepada Allah<br />
dan hari akhir, untuk bepergian selama tiga hari tanpa disertai<br />
muhrimnya. (H.R. Bukhari, Muslim dan Abu Daud, dari Ibn Umar)</p>
<p>9. Bahwa perkawinan itu bukan hanya mempertemukan dua orang; suami<br />
dan isteri, tetapi juga dua keluarga besar antar besan. Oleh karena<br />
itu suami/isteri harus bisa berhubungan secara proporsional dengan<br />
kedua belah pihak keluarga, orang tua, mertua adik, ipar dst.</p>
<p>10. Bahwa masalah harta benda sering menjadi sumber perselisihan<br />
keluarga, baik selagi masih hidup maupun setelah ditinggal mati<br />
(warisan). Orang tua diajarkan untuk berlaku adil terhadap anak-<br />
anaknya -termasuk dalam hal pemberian harta-. Ada dua jalan untuk<br />
menga-lihkan hak pemilikan harta orang tua kepada anak, yaitu hibah,<br />
yakni pemberian ketika orang tua masih hidup, dan pembagian harta<br />
warisan setelah orang tua mati.</p>
<p>Pedoman pembagian harta warisan dalam Islam sudah sangat jelas,<br />
tetapi kesepakatan keluarga (ahli waris) dapat membuat keputusan lain<br />
dalam pemba-gian harta. Harta waris yang diperoleh dengan cara re-<br />
butan/perselisihan biasanya tidak berkah, karena cara perolehannya<br />
disertai rasa permusuhan/tidak ridla.</p>
<p>artinya : Dan janganlah sebagian kamu memakan harta dari sebagian<br />
yang lain diantaramu dengan jalan yang batil, dan janganlah kamu<br />
membawa urusan harta itu ke pengadilan supaya kamu dapat menguasai<br />
(harta orang lain) dengan cara dosa, padahal kamu mengetahui<br />
(kesalahanmu). (Surat al Baqarah, 188)</p>
<p>11. Bahwa karena selalu berdekatan, komunikasi antara suami isteri<br />
biasanya menjadi sangat intens. Kehar-monisan hubungan antara suami<br />
isteri dipengaruhi oleh kesamaan atau keseimbangan watak/temperamen,<br />
kesamaan hobbi, kedekatan visi dan sebagainya. Kehar-monisan suami dan<br />
isteri akan terwujud jika masing-masing berfikir untuk memberi, bukan<br />
untuk menun-tut, saling menghargai, bukan saling merendahkan. Dalam<br />
kehidupan, seringkali dijumpai bahwa kesu-litan yang dihadapi justeru<br />
mengandung hikmah yang besar, asal orang dapat menerima dan<br />
menghadapinya secara benar dan sabar. Isteri biasanya kurang senang<br />
dinasehati suami jika nasehat itu seperti nasehat guru kepada murid,<br />
meskipun ia mengakui kebenaran na-sehat suaminya, demikian juga<br />
sebaliknya.</p>
<p>artinya: Wahai orang yang beriman, tidak halal bagi kamu mempusakai<br />
wanita dengan secara paksa dan janganlah kamu menyusahkan mereka<br />
karena hendak mengambil kembali seba-hagian dari apa yang telah engkau<br />
berikan kepada mereka, terkecualijika mereka melakukan perbuatan keji<br />
yang nyata. Pergauilah mereka dengan secara patut, tetapi jika kamu<br />
tidak menyukai mereka (maka bersabarlah), karena boleh jadi kamu<br />
tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan padanya kebaikan<br />
yang banyak. (an Nisa 19)</p>
<p>artinya: Tidak bisa memuliakan wanita, kecuali lelaki yang mulia<br />
juga, dan tidak sanggup merendahkan derajat wanita kecuali lelaki<br />
yang rendah (tercela) juga. (Hadis)</p>
<p>12. Pada dasarnya sistem perkawinan dalam Islam adalah monogami.<br />
Poligami diperbolehkan hanya dalam keadaan tertentu, bagaikan pintu<br />
darurat, dan dengan per-syaratan-persyaratan yang berat. Secara<br />
sosiologis, poligami terjadi disebabkan oleh banyak hal, antara lain:</p>
<p>a. Suami hanya menuruti dorongan syahwatnya, tanpa mengukur tanggung<br />
jawabnya.</p>
<p>b. Isteri kurang mengerti hal-hal yang dapat mengikat perasaan suami<br />
untuk tetap konsentrasi di rumah.</p>
<p>c. Pergaulan yang terlalu akrab dengan wanita lain, misalnya karena<br />
setiap hari selalu bersama (seperti teman sekerja), atau karena<br />
simpati kepada problem yang dihadapi si wanita itu sehingga si lelaki<br />
ter-dorong ingin menjadi dewa penolong.</p>
<p>d. Perpisahan yang terlalu lama antara suami dan isteri.</p>
<p>e. Campur tangan luar atau pelecehan harga diri suami oleh<br />
isteri/keluarganya sehingga suami merasa tidak berwibawa di rumah,<br />
dan selanjutnyya mencari kewibawaan di luar rumah.</p>
<p>f.Isteri tak berdaya menghadapi kehendak suami, atau sefaham bahwa<br />
poligami itu manusiawi saja.</p>
<p>Poligami yang dilakukan demi menjaga kesucian, adalah lebih baik<br />
daripada toleransi terhadap perzinahan. Ungkapan yang berbunyi; jika<br />
ingin makan daging kambing cukup beli sate, tidak harus repot-repot<br />
me-melihara kambing, sebenarnya adalah ungkapan sesat dari orang bodoh.<br />
Seorang bijak mengatakan bahwa poligami hanya bisa dilakukan oleh<br />
tiga orang, yaitu:</p>
<p>(1) oleh &#8220;raja&#8221;, yang dengan kekuasannya ia dapat mengatur isteri-<br />
isterinya,</p>
<p>(2) oleh orang berilmu, dimana dengan ilmunya ia bisa meminij<br />
keluarga besarnya,</p>
<p>(3) orang ngawur, dimana ngawurnya itu membuat-nya tak perduli<br />
dengan problem.</p>
<p>13. Perceraian. Dilihat dari sudut hak dan kewajiban, perkawinan<br />
merupakan kontrak sosial yang mengikat antara suami dan isteri,<br />
yakni bahwa suami memikul kewajiban yang melahirkan hak, sebagaimana<br />
juga isteri memiliki hak-hak yang lahir dari kewajiban yang<br />
dipikulnya.</p>
<p>Jika salah satu pihak tidak menjalankan kewajibannya, maka hal itu<br />
berpengaruh kepada hak-hak yang dimilikinya, dan sebaliknya menjadi<br />
hak bagi pihak lain untuk menggugatnya. Misalnya; suami wajib memberi<br />
nafkah keluarga, yang dengan itu suami memiliki hak untuk memimpin<br />
rumah tangga. Jika suami ternyata tidak sanggup memberi nafkah, seba-<br />
liknya isteri justeru bekerja keras dan bisa memberi nafkah<br />
keluarganya, maka hak kepemimpinan suami dalam rumah tangga pasti<br />
menjadi tidak penuh karena terdesak oleh kontribusi yang diberikan<br />
oleh isteri.</p>
<p>a. Ta&#8217;lik talak yang diucapkan suami setelah akad nikah merupakan<br />
bentuk perlindungan kepada isteri dari kelalaian suami.</p>
<p>b. Jika suami/isteri merasa bahwa hak-hak mereka tidak dipenuhi,<br />
sementara jalan keluar tidak ada, maka agama memberikan jalan keluar<br />
kepada pasangan itu untuk memilih satu dari dua pilihan: Kembali<br />
bersatu secara terhormat, atau berpisah secara baik-baik.<br />
artinya: Talak yang dapat dirujuk itu hanya dua kali, setelah itu<br />
boleh rujuk lagi dengan cara yang ma&#8217;ruf atau menceraikannya dengan<br />
cara yang baik. (Q/2:229)</p>
<p>c. Perceraian (talak) adalah sesuatu yang dihalalkan tetapi tidak<br />
disukai Tuhan.</p>
<p>artinya : Sesuatu yang halal yang sangat dimurkai Allah adalah talak.</p>
<p>d. Untuk mencegah terjadinya perceraian, dianjurkan keluarga turun<br />
tangan, yakni dengan mengirimkan tenaga mediasi (hakam).<br />
artinya: Jika kamu khawatir akan terjadi persengeketaan di antara<br />
keduanya (suami isteri), maka kirimkanlah seorang pendamai (hakam)<br />
dari keluarga suami dan dari keluarga siteri. Jika kedua juru damai<br />
itu berniat untuk mendamaikan, niscaya Allah akan memberikan taufiq<br />
kepada kedua suami isteri itu. Sesunguhnya Allah Maha Mengetahui lagi<br />
Maha Mengenal. (an Nisa, 35)</p>
<p>e. Perceraian yang ke I dan yang ke II (talak raj&#8217;i) tidak langsung<br />
memutuskan hubungan, oleh karena itu disediakan peluang untuk rujuk<br />
selama masa &#8216;iddah. Masa &#8216;iddah merupakan peluang bagi kedua belah<br />
pihak untuk merenungkan kembali hubungan diantara mereka. Pada rumah<br />
tangga yang beran-takan, anak-anak biasanya menjadi korban pertama<br />
dari apa yang dilakukan orang tuanya.</p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/titikbalik.wordpress.com/74/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/titikbalik.wordpress.com/74/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/titikbalik.wordpress.com/74/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/titikbalik.wordpress.com/74/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/titikbalik.wordpress.com/74/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/titikbalik.wordpress.com/74/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/titikbalik.wordpress.com/74/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/titikbalik.wordpress.com/74/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/titikbalik.wordpress.com/74/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/titikbalik.wordpress.com/74/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/titikbalik.wordpress.com/74/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/titikbalik.wordpress.com/74/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=titikbalik.wordpress.com&blog=1348603&post=74&subd=titikbalik&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://titikbalik.wordpress.com/2007/07/17/prinsip-prinsip-dasar-perkawinan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/bc2cb95a1de5837de7ebbb19e86e8559?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">ayudansigit</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Apa yang membuat Istri dan Suami menarik??</title>
		<link>http://titikbalik.wordpress.com/2007/07/17/apa-yang-membuat-istri-menarik/</link>
		<comments>http://titikbalik.wordpress.com/2007/07/17/apa-yang-membuat-istri-menarik/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 17 Jul 2007 03:17:55 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ayudansigit</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tanya Jawab]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://titikbalik.wordpress.com/2007/07/17/apa-yang-membuat-istri-menarik/</guid>
		<description><![CDATA[Apa yang membuat seorang istri menarik, hingga suami makin menyenangi
dan mengaguminya? Karena interaksi dengan istri sudah menjadi keseharian
dan hal rutin, seringkali seorang suami sulit menjawab pertanyaan itu.
From a distance, saya mencoba mengurai sifat dan sikap menarik dan
menyenangkan dari seorang istri.
Kenapa saya pilih kata menarik instead of cantik? Cantik fisik itu
relatif. Parameter-parameter pembangun kecantikan itu masih [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=titikbalik.wordpress.com&blog=1348603&post=73&subd=titikbalik&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Apa yang membuat seorang istri menarik, hingga suami makin menyenangi<br />
dan mengaguminya? Karena interaksi dengan istri sudah menjadi keseharian<br />
dan hal rutin, seringkali seorang suami sulit menjawab pertanyaan itu.<br />
From a distance, saya mencoba mengurai sifat dan sikap menarik dan<br />
menyenangkan dari seorang istri.</p>
<p>Kenapa saya pilih kata menarik instead of cantik? Cantik fisik itu<br />
relatif. Parameter-parameter pembangun kecantikan itu masih debatable.<br />
Terlebih lagi cantik fisik itu adalah daya tarik instant. Ia bisa<br />
menjadi daya tarik melenakan pada pandangan pertama dan pada interval<br />
waktu awal, tapi belum tentu pesona yang sama bisa dirasakan melalui<br />
interaksi pada jangka waktu yang panjang.</p>
<p>Menarik itu terbangun dari keutuhan kepribadian. Berbagai dimensi<br />
kecerdasan berpadu membangun kemenarikan (attractiveness), mulai dari<br />
kecerdasan intelektual, kecerdasan emosional hingga kecerdasan spiritual<br />
dan kecerdasan religius.</p>
<p>Maka kemenarikan seorang istri, menurut saya paling tidak tercermin dan<br />
menampak pada delapan pasangan karakter kunci di bawah ini:</p>
<p><span id="more-73"></span></p>
<p><strong>1. Ramah dan murah senyum</strong><br />
Keramahan dan murah senyum itu menjadi daya tarik universal. Ia menjadi<br />
salah satu kunci sukses seseorang, sebab dengannya ia mudah diterima<br />
orang lain. Dan ini menjadi faktor penting dalam berbagai kerja sosial<br />
dan profesional.</p>
<p>Dan senyum adalah pancaran suasana hati. Murah senyum dan ramah itu<br />
bukan tampilan sesaat. Ia adalah cerminan kepribadian. Dengan senyuman<br />
istri, seorang suami mendapatkan ketentraman dan kehangatan jiwa. Setiap<br />
kali ia mendapatkan senyuman sang istri, terbitlah suasana &#8220;kemarilah,<br />
di sini aku selalu ada untukmu&#8221; menghiasi relung jiwanya.</p>
<p><strong>2. Optimis dan ceria</strong><br />
Masalah itu untuk dipecahkan dan jangan membuat kita berdiam diri.<br />
Percayalah, kalau kita bergerak dan berusaha, kita akan menemukan jalan<br />
keluar. Kalimat-kalimat barusan itu normatif. Tapi ketika ucapan-ucapan<br />
itu keluar dari seorang istri dan ketika hal itu diucapkan dengan penuh<br />
rasa optimis dan dibarengi keceriaan, yakinlah seorang suami bahwa ia<br />
memperoleh anugerah terindah dalam hidupnya.</p>
<p>Seorang yang optimis itu tak akan berdiam diri dalam himpitan masalah.<br />
Ia akan mengurai masalah. Ia akan kerjakan apa yang bisa dikerjakan<br />
terlebih dahulu, tanpa menunda-nunda. Dan justru karena sikap melekat<br />
seperti ini, ia tak pernah mendapatkan dirinya menunggu himpitan<br />
segunung masalah. Setiap ada permasalahan hidup, ia cepat<br />
menyelesaikannya. Karena geraknya ini, setiap kali menyelesaikan satu<br />
pekerjaan, sekecil apapun, ia mendapatkan kesenangan jiwa. Dan karenanya<br />
sikap ceria selalu bisa dipelihara.</p>
<p><strong>3. Penyabar dan teguh hati</strong><br />
Bangunan rumah tangga itu ibarat bahtera yang berlayar mengarungi<br />
samudra. Adakalanya cuaca buruk melanda lautan. Angin dan ombak kencang<br />
menerpa. Pada saat itu terujilah sifat sabar dan teguh hati.</p>
<p>Seorang suami akan sangat bersyukur dengan kesabaran dan keteguhan hati<br />
istrinya ketika menghadapi berbagai kesulitan hidup. Hari-hari ketika<br />
persediaan uang bahkan tak mencukupi untuk hidup sehari, ketika mesti<br />
bekerja keras karena memang tak ada dana untuk menggaji seorang<br />
pembantu, ketika mesti berjalan cukup jauh mengantar anak bersekolah<br />
dengan mendorong baby-car adiknya pula. Atau ketika hadir<br />
suara-suara,&#8221;Bagaimana mungkin kamu bersabar dengan kondisi begini?<br />
Sekali-kali berontak donk sama suami &#8230;.&#8221; Ketika itu kesabaran dan<br />
keteguhan seorang istri dalam menjalani episode kehidupan diuji.</p>
<p>Tentu keteguhan hati itu lahir dari saling pengertian dan keyakinan,<br />
bahwa suami tak berdiam diri dengan kondisi yang ada. Tapi landasan<br />
utama keteguhan ini adalah pada keyakinan, bahwa Allah tak meninggalkan<br />
hambaNya. Dia akan menolong saat upaya kita sudah sampai pada batasnya;<br />
Saat kita berserah diri di ujung segala harapan dan hanya menggantungkan<br />
diri padaNya.</p>
<p><strong>4. Penyayang dan pemaaf</strong><br />
Manusia tak ada yang terbebas dan kekhilafan dan kekeliruan. Begitu juga<br />
seorang suami terhadap istrinya. Bahkan di hadapan istrinya, hampir<br />
semua ketidaksempurnaan yang dapat ia tutupi di luar rumah, akan<br />
terbuka.</p>
<p>Sifat penyayang dan pemaaf amat diperlukan seorang suami, dihadapkan<br />
pada segala kelemahan dirinya. Pengertian istri sungguh menjadi sesuatu<br />
yang amat dihajatkan. Dengan ini seorang suami terhindar dari<br />
keputusasaan dan blaming himself too far, menyalahkan diri sendiri<br />
terlalu jauh. Dengan ini seorang suami tetap bisa terjaga harga diri dan<br />
sikap optimisnya.</p>
<p>Penyayang dan pemaaf juga nampak pada keseharian istri dalam mendidik<br />
anak-anak. Suami akan senang melihat anak-anak tumbuh dalam suasana<br />
kasih sayang. Pemaafan atas kesalahan anak-anak bukan untuk mentolerir<br />
kesalahan itu, tapi untuk memberikan kesempatan kepada mereka belajar<br />
dari kesalahannya.</p>
<p>Penyayang juga menjadi karakter yang muncul saat istri berinterkasi<br />
dengan orang tua dan kerabat suaminya. Pernikahan itu menyatukan dua<br />
bani. Dan ketika suami mendapatkan istrinya menerima dan diterima dengan<br />
baik dan bahkan menjadi kesayangan orang tua dan karib kerabatnya,<br />
sungguh ia merasakan rasa senang tiada tara.</p>
<p><strong>5. Empatif dan ringan tangan (suka menolong)</strong><br />
Bekerja sama dan saling menolong dalam kehidupan rumah tangga menjadi<br />
tuntutan mendasar. Adapun sifat empatif dan ringan tangan dalam menolong<br />
di sini lebih ditekankan pada karakter seorang istri bagi masyarakat di<br />
sekelilingnya.</p>
<p>Sebuah rumah tangga menjadi bagian dari satu masyarakat. Keharmonisan<br />
satu keluarga dalam menempatkan diri di tengah masyarakat menjadi satu<br />
kepuasan batin dan kebahagiaan tersendiri. Ketika seorang istri<br />
menunjukkan sikap empatif dan banyak memberikan pertolongan kepada<br />
orang-orang di sekeliling rumah, seorang suami akan mendapatkan pesona<br />
sosial pada istrinya.</p>
<p>Selain itu, seorang istri yang memberikan perhatian terhadap masyarakat<br />
sekelilingnya justru akan semakin bersikap dewasa dalam mengatasi<br />
permasalahan rumah tangganya. Ini menjadikan suasana komunikasi dengan<br />
suaminya di rumah lebih seimbang dan menentramkan.</p>
<p><strong>6. Aktif dan produktif</strong><br />
Pesona sosial pada seorang istri lebih dirasakan suaminya, ketika ia<br />
memberikan kontribusi lebih sistematis kepada masyarakatnya. Tidak<br />
menjadi masalah pada bidang apa kontribusi ini dicurahkan, pada<br />
pendidikan, kesehatan, perekonomian, kesejahteraan, atau beberapa sektor<br />
industri. Yang pasti keaktifan dan produktifitas seorang istri bagi<br />
masyarakatnya menjadi daya tarik tersendiri bagi suami.</p>
<p>Produktifitas ini tentu saja tidak mesti identik pada jauh meninggalkan<br />
urusan rumah tangga. Saya sendiri melihat, basis dari segala aktifitas<br />
sosial seorang istri itu adalah bagaimana ia menjadi aktifis yang<br />
memiliki visi terbangunnya keluarga-keluarga yang sehat, cerdas dan<br />
sejahtera.</p>
<p>Untuk mewujudkan visi di atas dibutuhkan dukungan segenap instrument<br />
sosial-kemasyarakatan dan kenegaraan, mulai dari peraturan perundangan<br />
yang digodok di lembaga legislatif, ilmu pengetahuan dan teknologi yang<br />
dihasilkan lembaga pendidikan dan riset, konsep dan kebijakan yang<br />
dibuat eksekutif, aktifitas pemberdayaan masyarakat yang dipelopori<br />
LSM-LSM (NGOs) dan gerakan sosial lainnya hingga wujud materi peradaban<br />
seperti sekolah-sekolah, klinik hingga rumah sakit, industri farmasi<br />
penopang kesehatan, industri pemasok makanan bergizi, industri<br />
telekomunikasi yang memfasilitasi dan menyajikan informasi yang baik dan<br />
mencerdaskan, dan lain-lain.</p>
<p>Karenanya terbuka seribu satu medan bagi para istri untuk berkiprah,<br />
mulai dari ruang lingkup rukun tangga (RT), rukun warga (RW) hingga<br />
lingkup negara dan bahkan dunia.</p>
<p><strong>7. Cerdas dan kreatif</strong><br />
Kepribadian seorang manusia itu terus berkembang dan tumbuh menuju<br />
kematangan tatkala proses belajar terus menyertainya. Dari waktu ke<br />
waktu istri pembelajar akan selalu menghadirkan kemenarikan yang baru.<br />
Satu hari tiba-tiba dia memasak kue bolu amat lezat, yang belum pernah<br />
disajikan kepada keluarganya. Di kesempatan lain dia mengisahkan baru<br />
lulus kursus Qiraati -satu metoda belajar membaca al-Quran-, karena<br />
memang dibutuhkan untuk menyertai perkembangan salah satu sisi<br />
pendidikan anak-anak. Atau ketika dia mengikuti kegiatan senam kebugaran<br />
dengan tekun, yang memang membuat tubuhnya bugar dan menambah vitalitas<br />
hubungan dengan suaminya.</p>
<p>Kecerdasan itu bergabung dengan kreatifitas dan berjalan seiring.<br />
Kreatifitas dalam mengelola rumah tangga menjadi pesona tiada batas bagi<br />
pasangan suami-istri. Dengan daya kreatif ini, segala masalah bisa<br />
dihadapi secara cerdas dan tepat.</p>
<p><strong>8. Tekun dan ikhlas beribadah</strong><br />
Puncak dan sekaligus landasan bagi segala daya tarik seorang istri<br />
adalah pada ketekunannya menjalankan ibadah dan mengikhlaskan segala<br />
cinta, aktifitas dan kerja-kerjanya semata untuk mengharapkan keridhoan<br />
Ilahi. Pada karakter ini seorang istri adalah individu yang independent<br />
dari siapapun, termasuk dari suaminya. Ia akan menggapai kemuliaan<br />
dirinya di hadapan Allah Penguasa Alam Semesta dan di hadapan segenap<br />
makhlukNya, termasuk di hadapan suaminya.</p>
<p><strong><em> Hal yang disukai istri dari suaminya</em><br />
</strong>Terkadang kita ingin tahu juga, apa yang membuat istri kita senang dalam kehidupan berumah-tangga. Berikut ini adalah satu versi rangkaian sikap dan sifat yang disukai seorang istri dari suaminya:</p>
<p><strong>1. Penuh Pengertian</strong></p>
<p>Seorang istri senang diperhatikan dan didengarkan. Ia senang suaminya memahami dan mengerti dirinya. Dalam suka dan dukanya. Dalam ceria dan sedihnya. Ia senang suami mengetahui perasaannya. Ia misalnya senang diberitahu pakaiannya yang mana yang paling disukai suaminya. Atau masakannya yang mana yang paling lezat bagi suaminya. Karenanya obrolan-obrolan ringan dan lembut amat dinanti-nanti seorang istri. Setiap kata yang keluar dari lidah dan bibirnya adalah pesan cinta yang ingin ia sampaikan. Dan ia ingin tahu bagaimana suaminya menanggapi pesan cintanya itu.Tangisan seorang istri itu memiliki sekian banyak makna, bisa karena sedih, bisa karena marah, bisa karena terharu dan bahagia. Ia senang jika suaminya bersabar untuk mengenal setiap jenis air mata yang metetes dari matanya.Pengertian ini menjadi inti dan landasan segala sikap menyenangkan yang mungkin dilakukan seorang suami terhadap istrinya.</p>
<p><strong>2. Setia</strong><br />
Kesetiaan adalah syarat utama cinta sejati. Seorang istri ingin cinta suami itu hanya untuknya. Karenanya kecemburuan adalah bagian dari cinta. Sapaan sayang di tengah kesibukan, walaupun hanya satu dua menit kata-kata yang disampaikan lewat telepon, walaupun hanya satu dua kalimat SMS, akan menjadi pengokoh kepercayaan. Hadiah yang diberikan: martabak kesukaannya, seikat bunga, atau sebuah jam tangan yang manis akan menguatkan cinta. Dan mengingat hari ulang tahun serta hari pernikahan akan menjadi bukti kesetiaan suami yang disukai seorang istri.Tapi seorang istri yang baik akan mengatakan, &#8220;Jangan karena takut kepadaku, kakanda bersikap setia. Karena Allah Maha Melihat. Itu yang mesti menjadi landasan kesetiaan.&#8221;</p>
<p><strong>3. Sabar dan Pemaaf</strong><br />
Seorang istri akan amat bersyukur jika suaminya mau menerima dirinya apa adanya. Suaminya mampu memaafkan dan bersabar atas kekurangan yang ada pada dirinya. Ia butuh waktu untuk membina dirinya. Ia bahkan butuh waktu untuk memahami dirinya sendiri, ketika satu ketika ia tidak menjadi dirinya sendiri.Seorang istri perlu mendapatkan nasihat, akan tetapi itu dilakukan dengan penuh kesabaran dan kasih sayang.</p>
<p>Ini seperti pesan Ilahi: &#8220;Kemudian keadaan orang beriman itu adalah saling menasihati dalam kesabaran dan dalam kasih sayang.&#8221; (QS. al-Balad); &#8220;Dan jika kalian memaafkan, tidak memarahi, dan mengampuni mereka, maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun dan Maha Penyayang.&#8221; (QS. at-Taghabun)</p>
<p><strong>4. Teguh Hati dan Bersemangat</strong><br />
Seorang istri senang melihat suaminya senantiasa berteguh hati dan bersemangat dalam menyelesaikan berbagai tugas dan amanah. Ia senang suaminya dapat senantiasa prima menunaikan tugas-tugas di luar rumah dan sekaligus membantu menyelesaikan permasalahan di rumah. Karenanya seorang istri senang melihat suaminya akrab bercengkrama, bermain dengan anak-anaknya. Dan saat suami sesekali memasak untuk keluarga, ada sentuhan hangat menyentuh relung jiwa seorang istri.Bagaimana jika suaminya berada dalam kondisi bete atau kehilangan semangat? Seorang istri akan menerima keadaan ini asalkan ia melihat suaminya berusaha keras untuk melepaskan diri dari keadaan lemah ini. Ia bahkan akan memberikan bantuan dan doa terbaik bagi suaminya.</p>
<p><strong>5. Romantis</strong><br />
Seorang istri senang jika suaminya mampu memperlihatkan dan mengekspresikan cinta dan kasih sayang. Ia senang mendapati suaminya membangun suasana kondusif kasih sayang di rumah. Ia senang jika suaminya romantis.Diantara ungkapan cinta suami-istri adalah dalam hubungan intim. Seorang istri senang jika suaminya memberikan kesenangan dan kepuasan pada salah satu kebutuhan cinta ini. Ia akan terbuka menyampaikan apa yang ia sukai, ketika suaminya mampu membuka percakapan dalam masalah ini secara tepat dan penuh kelembutan (tenderly).</p>
<p><strong>6. Rapi dan Wangi</strong><br />
Seorang istri suka suaminya rapi. Rapi menata rambut dan rapi berpakaian, bahkan dalam suasana santai. Kerapian yang disukai adalah kerapian yang alami dan melekat dalam kehidupan suami.Sikap suami yang kooperatif dalam menjaga kerapian rumah juga disukai seorang istri. Karenanya ketika seorang suami berinisiatif menyapu ruang tengah, membersihkan kompor di dapur, atau membersihkan kamar tidur dengan membongkar tempat tidur secara rutin &#8230; pada semuanya ada apresiasi dari seorang istri.Rapi, bersih dan wangi pada seorang suami membuat istrinya senang. Seorang suami bisa meminta istrinya memilihkan minyak wangi baginya. Ia akan terbantu menyempurnakan penampilan bagi istrinya.</p>
<p><strong>7. Ceria dan Ramah</strong><br />
Senyum ceria dan keramahan amat dihajatkan seorang istri. Senyum dan keramahan itu laksana angin sejuk di tengah berbagai kelelahan dirinya. Berbagai kesibukan membuat jiwanya lelah. Interaksi dengan anak-anak di rumah itu bukan pekerjaan ringan. Segenap potensi kejiwaan dan pikiran mesti ia curahkan. Kelelahan fisik pun tidak ringan. Perhatikanlah, ia mesti terus memperhatikan anaknya yang terus bergerak kesana kemari, bereksplorasi ketika mulai bisa merangkak. Dan saat si anak lelah tertidur, ia mesti bersiap-siap memasak dan merapikan rumah bagi suaminya yang sebentar lagi pulang &#8230;Senyum dan sapaan sayang suami akan menjadi hiburan jiwa bagi sang istri. Sikap humoris juga amat membantu seorang istri untuk selalu menjaga suasana riang hatinya. Ini semua akan membantunya untuk terus bersabar dan ikhlas dalam menunaikan tugas-tugasnya.</p>
<p><strong>8. Menjadi Pemimpin yang Melindungi</strong><br />
Istri membutuhkan perlindungan yang membuatnya senantiasa merasa tentram. Karenanya ia menyukai sifat kepemimpinan pada suaminya. Kepemimpinan yang ia harapkan adalah yang senantiasa menentramkan jiwanya, mengokohkan ruhaninya, memberikan pencerahan demi pencerahan pada akalnya dan membantu menjaga kebugaran dan kesehatan tubuhnya.</p>
<p>Kepemimpinan yang ia sukai adalah yang memadukan ketegasan dan kelembutan. Yang menebarkan cinta, bukan membuat takut. Yang mengedepankan kemauan baik, bukan senantiasa menggunakan otoritas (misalnya dengan selalu menggunakan kalimat &#8220;suami kan pemimpin rumah tangga, jadi mesti taat donk&#8221;). Yang betul-betul menjadi pemimpin, bukan menjadi boss.<br />
<strong><br />
</strong></p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/titikbalik.wordpress.com/73/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/titikbalik.wordpress.com/73/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/titikbalik.wordpress.com/73/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/titikbalik.wordpress.com/73/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/titikbalik.wordpress.com/73/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/titikbalik.wordpress.com/73/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/titikbalik.wordpress.com/73/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/titikbalik.wordpress.com/73/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/titikbalik.wordpress.com/73/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/titikbalik.wordpress.com/73/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/titikbalik.wordpress.com/73/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/titikbalik.wordpress.com/73/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=titikbalik.wordpress.com&blog=1348603&post=73&subd=titikbalik&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://titikbalik.wordpress.com/2007/07/17/apa-yang-membuat-istri-menarik/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/bc2cb95a1de5837de7ebbb19e86e8559?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">ayudansigit</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Di Jalan Dakwah Aku Menikah</title>
		<link>http://titikbalik.wordpress.com/2007/07/13/di-jalan-dakwah-aku-menikah/</link>
		<comments>http://titikbalik.wordpress.com/2007/07/13/di-jalan-dakwah-aku-menikah/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 13 Jul 2007 08:10:29 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ayudansigit</dc:creator>
				<category><![CDATA[Percik]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://titikbalik.wordpress.com/2007/07/13/di-jalan-dakwah-aku-menikah/</guid>
		<description><![CDATA[Atribut yang diberikan Islam kepada kita, salah satunya adalah dai ilallah. Kita dituntut untuk merealisasikan dakwah dalam seluruh waktu kehidupan kita. Setiap langkah kita sesungguhnya adalah dakwah kepada Allah, sebab dengan itulah Islam terkabarkan kepada masyarakat. Bukankah dakwah bermakna mengajak manusia merealisasikan ajaran-ajaran Allah dalam kehidupan keseharian? Sudah selayaknya kita sebagai pelaku yang menunaikan pertama [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=titikbalik.wordpress.com&blog=1348603&post=54&subd=titikbalik&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Atribut yang diberikan Islam kepada kita, salah satunya adalah dai ilallah. Kita dituntut untuk merealisasikan dakwah dalam seluruh waktu kehidupan kita. Setiap langkah kita sesungguhnya adalah dakwah kepada Allah, sebab dengan itulah Islam terkabarkan kepada masyarakat. Bukankah dakwah bermakna mengajak manusia merealisasikan ajaran-ajaran Allah dalam kehidupan keseharian? Sudah selayaknya kita sebagai pelaku yang menunaikan pertama kali, sebelum mengajak kepada yang lainnya.</p>
<p>Pernikahan akan bersifat dakwah apabila dilaksanakan sesuai dengan tuntunan Islam di satu sisi, dan menimbang berbagai kemaslahatan dakwah dalam setiap langkahnya, pada sisi yang lain. Dalam memilih jodoh, dipilihkan pasangan hidup yang bernilai optimal bagi dakwah. Dalam menentukan siapa calon jodoh tersebut, dipertimbangkan pula kemaslahatan secara lebih luas. selain kriteria umum sebagaimana tuntunan fikih Islam, pertimbangan lainnya adalah : apakah pemilihan jodoh ini memiliki implikasi kemaslahatan yang optimal bagi dakwah, ataukah sekedar mendapatkan kemaslahatan bagi dirinya? mari saya beri contoh berikut. diantara sekian banyak wanita muslimah yang telah memasuki usia siap menikah, mereka berbeda-beda jumlah bilangan usianya yang oleh karena itu berbeda pula tingkat kemendesakan untuk menikah. Beberapa orang bahkan sudah mencapai usia 35 tahun, sebagian yang lain antara 30 hingga 35 tahun, sebagian berusia 25 hingga 30, dan yang lainnya di bawah usia 25 tahun. Mereka semua ini siap menikah, siap menjalankan fungsinya dan peran sebagai isteri dan ibu di rumah tangga.</p>
<p>Anda adalah laki-laki muslim yang telah berniat melaksanakan pernikahan. Usia anda 25 tahun. Anda dihadapkan pada realitas bahwa wanita muslimah yang sesuai kriteria fikih Islam untuk anda nikahi ada sekian banyak jumlahnya. Maka siapakah yang lebih anda pilih, dan dengan pertimbangan apa anda memilih dia sebagai calon isteri anda?</p>
<p><span id="more-54"></span></p>
<p>Ternyata anda memilih si A, karena ia memiliki kriteria kebaikan agama, cantik, menarik, Pandai, dan usia masih muda, 20 tahun atau bahkan kurang dari itu. Apakah pilihan anda itu salah? Demi Allah, pilihan anda ini tidak salah! anda telah memilih calon isteri dengan benar karena berdasarkan kriteria kebaikan agama, dan memenuhi sunnah kenabian. Bukankah Rasulullah bertanya kepada Jabir ra :</p>
<p align="left"><em>“Mengapa tidak menikah dengan seorang gadis yang bisa engkau cumbu dan bisa mencumbuimu” (Riwayat Bukhari dan Muslim)</em></p>
<p>Dan inilah jawaban dakwah seorang Jabir ra,</p>
<p><em>“Wahai Rasulullah, saya memiliki saudara-saudara perempuan yang berjiwa keras, saya tidak mau membawa yang keras juga kepada mereka. janda ini saya harapkan mampu menyelesaikan permasalahan tersebut.” kata Jabir “benar katamu” jawab Nabi saw.</em></p>
<p>Jabir tidak hanya berfikir untuk kesenangan dirinya sendiri. Ia bisa memilih seorang gadis perawan yang cantik dan muda belia. Namun ia memiliki kepekaan dakwah yang amat tinggi. kemaslahatan menikahi janda tersebut lebih tinggi dalam pandangan Jabir, dibandingkan dengan menikahi gadis perawan.</p>
<p>Nah, apabila semua laki-laki muslim berpikiran dan menentukan calon isterinya harus memiliki kecantikan ideal, berkulit putih, usia 5 tahun lebih muda dari dirinya, maka siapakah yang akan datang melamar para wanita muslimah yang usianya diatas 25 tahun, atau usia diatas 30 tahun atau bahkan diatas usia 35 tahun ?</p>
<p>Siapakah yang akan datang melamar para wanita muslimah yang dari segi fisik tidak cukup alasan untuk dikatakan sebagai cantik menurut ukuran umum? mereka, wanita tadi adalah para muslimah yang melaksanakan ketaatan, mereka adalah wanita shalihah, menjaga kehormatan diri, bahkan mereka aktif terlibat dalam kegiatan dakwah dan sosial. Menurut anda, siapakah yang harus menikahi mereka?</p>
<p>Ah, mengapa pertanyaannya “harus” ? Dan mengapa pertanyaan ini hanya dibebankan kepada seseorang ? kita bisa saja mengabaikan dan melupakan realitas ini. Jodoh ditangan Allah, kita tidak memiliki hak menentukan segala sesuatu, biarlah Allah memberikan keputusan agungNya. Bukan, bukan dalam konteks itu saya berbicara. Kita memang bisa melupakan mereka, dan tidak peduli dengan orang lain, tapi bukankah Islam tidak menghendaki kita berperilaku demikian?</p>
<p>Kendatipun nabi saw menganjurkan Jabir agar beristeri gadis, kita juga mengetahui bahwa hampir seluruh isteri Rasulullah adalah janda.</p>
<p>Kendatipun nabi saw. menyatakan agar Jabir beristeri gadis, pada kenytaannya Jabir telah menikahi janda.</p>
<p>Demikian pula permintaan mahar Ummu Sulaim terhadap laki-laki yang datang melamarnya, Abu Thalhah. Mahar keislaman Abu Thalhah menyebabkan Ummu Sulaim menerima pinangannya. Inilah pilihan dakwah. Inilah pernikahan barakah, membawa maslahat bagi dakwah.</p>
<p>Sebagaimana pula pikiran yang terbersit di benak Sa’ad bin Rabi saat ia menerima saudaranya seiman, Abdurahman bin Auf. <em>“Saya memiliki dua isteri sedangkan engkau tidak memiliki isteri. Pilihlah seorang diantara mereka yang engkau suka, sebutkan mana yang engkau pilih, akan saya ceraikan dia untuk engkau nikahi. Kalau iddahnya sudah selesai maka nikahilah dia” (riwayat Bukhari)</em></p>
<p>Ia tidak memiliki maksud apapun kecuali memikirkan kondisi saudaranya seiman yang belum memiliki istri. Keinginan berbuat baiknya itulah yang sampai memunculkan ide aneh tersebut. Akan tetapi sebagaimana kita ketahui, Abdurrahman bin Auf menolak tawaran itu, dan ia sebagai orang baru di Madinah hanya ingin ditunjukkan jalan ke pasar.</p>
<p>Ini hanya satu contoh saja, bahwa dalam konteks pernikahan, hendaknya dikaitkan dengan proyek besar dakwah Islam. Jika kecantikan gadis harapan anda bernilai 100 poin, tidakkah anda bersedia menurunkan 20 atau 30 poin untuk bisa mendapatkan kebaikan dari segi yang lain? ketika pilihan itu membawa maslahat bagi dakwah, mengapa tidak ditempuh? Jika gadis harapan anda berusia 20 tahun, tidakkan anda bersedia sedikit memberikan toleransi dengan masalahat kepada wanita yang lebih mendesak untuk segera menikah disebabkan desakan usia? Jika anda adalah wanita muda usia, dan ditanya ? dalam konteks pernikahan ? oleh seorang lelaki yang sesuai kriteria harapan anda, mampukah anda mengatakan kepada dia, “saya memang telah siap menikah, akan tetapi si B sahabat saya, lebih mendesak untuk segera menikah”.</p>
<p>Atau kita telah sepakat untuk tidak mau melihat realitas itu, karena bukanlah tanggung jawab kita ? Ini urusan masing-masing. Keberuntungan dan keidakberuntungan adalah soal takdir yang tidak berada di tangan kita. Masya Allah, seribu dalil bisa kita gunakan untuk mengabsahkan pikiran individualistik kita. Akan tetapi hendaknya kita ingat pesan kenabian berikut:</p>
<p><em>“Perumpamaan orang-orang mukmin dalam cinta, kasih sayang dan kelembutan hati mereka adalah seperti satu tubuh. Apabila satu anggota tubuh menderita sakit, terasakanlah sakit tersebut di seluruh tubuh hingga tidak bisa tidur dan panas” (Riwayat Bukhari dan Muslim)</em></p>
<p>Bisa jadi kebahagiaan pernikahan kita telah menyakitkan dan mengiris-ngiris hati beberapa orang lain. Setiap saat mereka mendapatkan undangan pernikahan, harus membaca, dan menghadiri dengan perasaan yang sedih, karena jodoh tak kunjung datang, sementara usia terus bertambah, dan kepercayaan diri semakin berkurang.</p>
<p>Disinilah perlunya kita berfikir tentang kemaslahatan dakwah dalam proses pernikahan muslim.</p>
<p>Sumber : Buku “Di Jalan Dakwah Aku Menikah“.<br />
Oleh : Cahyadi Takariawan.</p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/titikbalik.wordpress.com/54/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/titikbalik.wordpress.com/54/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/titikbalik.wordpress.com/54/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/titikbalik.wordpress.com/54/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/titikbalik.wordpress.com/54/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/titikbalik.wordpress.com/54/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/titikbalik.wordpress.com/54/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/titikbalik.wordpress.com/54/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/titikbalik.wordpress.com/54/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/titikbalik.wordpress.com/54/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/titikbalik.wordpress.com/54/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/titikbalik.wordpress.com/54/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=titikbalik.wordpress.com&blog=1348603&post=54&subd=titikbalik&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://titikbalik.wordpress.com/2007/07/13/di-jalan-dakwah-aku-menikah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/bc2cb95a1de5837de7ebbb19e86e8559?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">ayudansigit</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Menikah, Kenapa Takut?</title>
		<link>http://titikbalik.wordpress.com/2007/07/13/menikah-kenapa-takut-2/</link>
		<comments>http://titikbalik.wordpress.com/2007/07/13/menikah-kenapa-takut-2/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 13 Jul 2007 05:07:48 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ayudansigit</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pilar-pilar]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://titikbalik.wordpress.com/2007/07/13/menikah-kenapa-takut-2/</guid>
		<description><![CDATA[Menikah, Kenapa Takut?
Oleh: DR. Amir Faishol Fath

“MENIKAH”

Kita hidup di zaman yang mengajarkan pergaulan bebas, menonjolkan aurat, dan mempertontonkan perzinaan. Bila mereka berani kepada Allah dengan melakukan tindakan yang tidak hanya merusak diri, melainkan juga menghancurkan institusi rumah tangga, mengapa kita takut untuk mentaati Allah dengan membangun rumah tangga yang kokoh? Bila kita beralasan ada resiko [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=titikbalik.wordpress.com&blog=1348603&post=50&subd=titikbalik&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><strong>Menikah, Kenapa Takut?</strong><strong><br />
<strong>Oleh: DR. Amir Faishol Fath</strong><br />
</strong></p>
<p><strong>“MENIKAH”</strong><strong><br />
</strong><br />
Kita hidup di zaman yang mengajarkan pergaulan bebas, menonjolkan aurat, dan mempertontonkan perzinaan. Bila mereka berani kepada Allah dengan melakukan tindakan yang tidak hanya merusak diri, melainkan juga menghancurkan institusi rumah tangga, mengapa kita takut untuk mentaati Allah dengan membangun rumah tangga yang kokoh? Bila kita beralasan ada resiko yang harus dipikul setelah menikah, bukankah perzinaan juga punya segudang resiko? Bahkan resikonya lebih besar. Bukankankah melajang ada juga resikonya?</p>
<p>Hidup, bagaimanapun adalah sebuah resiko. Mati pun resiko. Yang tidak ada resikonya adalah bahwa kita tidak dilahirkan ke dunia. Tetapi kalau kita berpikir bagaimana lari dari resiko, itu pemecahan yang mustahil. Allah tidak pernah mengajarkan kita agar mencari pemecahan yang mustahil. Bila ternyata segala sesuatu ada resikonya, maksiat maupun taat, mengapa kita tidak segera melangkah kepada sikap yang resikonya lebih baik? Sudah barang tentu bahwa resiko pernikahan lebih baik daripada resiko pergaulan bebas (baca: zina). Karenanya Allah mengajarkan pernikahan dan menolak perzinaan.</p>
<p>Saya sering ngobrol, dengan kawaan-kawan yang masih melajang, padahal ia mampu untuk menikah. Setelah saya kejar alasannya, ternyata semua alasan itu tidak berpijak pada fondasi yang kuat: ada yang beralasan untuk mengumpulkan bekal terlebih dahulu, ada yang beralasan untuk mencari ilmu dulu, dan lain sebagainya. Berikut ini kita akan mengulas mengenai mengapa kita harus segera menikah? Sekaligus di celah pembahasan saya akan menjawab atas beberapa alasan yang pernah mereka kemukakan untuk membenarkan sikap.</p>
<p><span id="more-50"></span></p>
<p><strong>Menikah itu Fitrah</strong><strong><br />
</strong><br />
Allah Taala menegakkan sunnah-Nya di alam ini atas dasar berpasang-pasangan. Wa min kulli syai’in khalaqnaa zaujain, dan segala sesuatu kami ciptakan berpasang-pasangan (Adz-Dzariyaat: 49). Ada siang ada malam, ada laki ada perempuan. Masing-masing memerankan fungsinya sesuai dengan tujuan utama yang telah Allah rencanakan. Tidak ada dari sunnah tersebut yang Allah ubah, kapanpun dan di manapun berada. Walan tajida lisunnatillah tabdilla, dan kamu sekali-kali tidak akan mendapati perubahan pada sunnah Allah (Al-Ahzab: 62). Walan tajida lisunnatillah tahwiila, dan kamu tidak akan mendapati perubahan bagi ketetapan kami itu. (Al-Isra: 77)</p>
<p>Dengan melanggar sunnah itu berarti kita telah meletakkan diri pada posisi bahaya. Karena tidak mungkin Allah meletakkan sebuah sunnah tanpa ada kesatuan dan keterkaitan dengan sIstem lainnya yang bekerja secara sempurna secara universal.</p>
<p>Manusia dengan kecanggihan ilmu dan peradabannya yang dicapai, tidak akan pernah mampu menggantikan sunnah ini dengan cara lain yang dikarang otaknya sendiri. Mengapa? Sebab, Allah swt. telah membekali masing-masing manusia dengan fitrah yang sejalan dengan sunnah tersebut. Melanggar sunnah artinya menentang fitrahnya sendiri.</p>
<p>Bila sikap menentang fitrah ini terus-menerus dilakukan, maka yang akan menanggung resikonya adalah manusia itu sendiri. Secara kasat mata, di antara yang paling tampak dari rahasia sunnah berpasang-pasangan ini adalah untuk menjaga keberlangsungan hidup manusia dari masa ke masa sampai titik waktu yang telah Allah tentukan. Bila institusi pernikahan dihilangkan, bisa dipastikan bahwa mansuia telah musnah sejak ratusan abad yang silam.</p>
<p>Mungkin ada yang nyeletuk, tapi kalau hanya untuk mempertahankan keturunan tidak mesti dengan cara menikah. Dengan pergaulan bebas pun bisa. Anda bisa berkata demikian. Tetapi ada sisi lain dari fitrah yang juga Allah berikan kepada masing-masing manusia, yaitu: cinta dan kasih sayang, mawaddah wa rahmah. Kedua sisi fitrah ini tidak akan pernah mungkin tercapai dengan hanya semata pergaulan bebas. Melainkan harus diikat dengan tali yang Allah ajarkan, yaitu pernikahan. Karena itulah Allah memerintahkan agar kita menikah. Sebab itulah yang paling tepat menurut Allah dalam memenuhi tuntutan fitrah tersebut. Tentu tidak ada bimbingan yang lebih sempurna dan membahagiakan lebih dari daripada bimbingan Allah.</p>
<p>Allah berfirman fankihuu, dengan kata perintah. Ini menunjukan pentingnya hakikat pernikahan bagi manusia. Jika membahayakan, tidak mungkin Allah perintahkan. Malah yang Allah larang adalah perzinaan. Walaa taqrabuzzina, dan janganlah kamu mendekati zina (Al-Israa: 32). Ini menegaskan bahwa setiap yang mendekatkan kepada perzinaan adalah haram, apalagi melakukannya. Mengapa? Sebab Allah menginginkan agar manusia hidup bahagia, aman, dan sentosa sesuai dengan fitrahnya.</p>
<p>Mendekati zina dengan cara apapun, adalah proses penggerogotan terhadap fitrah. Dan sudah terbukti bahwa pergaulan bebas telah melahirkan banyak bencana. Tidak saja pada hancurnya harga diri sebagai manusia, melainkan juga hancurnya kemanusiaan itu sendiri. Tidak jarang kasus seorang ibu yang membuang janinnya ke selokan, ke tong sampah, bahkan dengan sengaja membunuhnya, hanya karena merasa malu menggendong anaknya dari hasil zina.</p>
<p>Perhatikan bagaimanan akibat yang harus diterima ketika institusi pernikahan sebagai fitrah diabaikan. Bisa dibayangkan apa akibat yang akan terjadi jika semua manusia melakukan cara yang sama. Ustadz Fuad Shaleh dalam bukunya liman yuridduz zawaj mengatakan, “Orang yang hidup melajang biasanya sering tidak normal: baik cara berpikir, impian, dan sikapnya. Ia mudah terpedaya oleh syetan, lebih dari mereka yang telah menikah.”</p>
<p><strong>Menikah Itu Ibadah</strong><strong><br />
</strong><br />
Dalam surat Ar-Rum: 21, Allah menyebutkan pentingnya mempertahankan hakikat pernikahan dengan sederet bukti-bukti kekuasaan-Nya di alam semesta. Ini menunjukkan bahwa dengan menikah kita telah menegakkan satu sisi dari bukti kekusaan Allah swt. Dalam sebuah kesempatan Rasulullah saw. lebih menguatkan makna pernikahan sebagai ibadah, “Bila seorang menikah berarti ia telah melengkapi separuh dari agamanya, maka hendaknya ia bertakwa kepada Allah pada paruh yang tersisa.” (HR. Baihaqi, hadits Hasan)</p>
<p>Belum lagi dari sisi ibadah sosial. Dimana sebelum menikah kita lebih sibuk dengan dirinya, tapi setelah menikah kita bisa saling melengkapi, mendidik istri dan anak. Semua itu merupakan lapangan pahala yang tak terhingga. Bahkan dengan menikah, seseorang akan lebih terjaga moralnya dari hal-hal yang mendekati perzinaan. Alquran menyebut orang yang telah menikah dengan istilah muhshan atau muhshanah (orang yang terbentengi). Istilah ini sangat kuat dan menggambarkan bahwa kepribadian orang yang telah menikah lebih terjaga dari dosa daripada mereka yang belum menikah.</p>
<p>Bila ternyata pernikahan menunjukkan bukti kekuasan Allah, membantu tercapainya sifat takwa. dan menjaga diri dari tindakan amoral, maka tidak bisa dipungkiri bahwa pernikahan merupakan salah satu ibadah yang tidak kalah pahalanya dengan ibadah-ibadah lainnya. Jika ternyata Anda setiap hari bisa menegakkan ibadah shalat, dengan tenang tanpa merasa terbebani, mengapa Anda merasa berat dan selalu menunda untuk menegakkan ibadah pernikahan, wong ini ibadah dan itupun juga ibadah.</p>
<p><strong>Pernikahan dan Penghasilan</strong><strong><br />
</strong><br />
Seringkali saya mendapatkan seorang jejaka yang sudah tiba waktu menikah, jika ditanya mengapa tidak menikah, ia menjawab belum mempunyai penghasilan yang cukup. Padahal waktu itu ia sudah bekerja. Bahkan ia mampu membeli motor dan HP. Tidak sedikit dari mereka yang mempunyai mobil. Setiap hari ia harus memengeluarkan biaya yang cukup besar dari penggunakan HP, motor, dan mobil tersebut. Bila setiap orang berpikir demikian apa yang akan terjadi pada kehidupan manusia?</p>
<p>Saya belum pernah menemukan sebuah riwayat yang menyebutkan bahwa Rasulullah saw. melarang seorang sahabatnya yang ingin menikah karena tidak punya penghasilan. Bahkan dalam beberapa riwayat yang pernah saya baca, Rasulullah saw. bila didatangi seorang sahabatnya yang ingin menikah, ia tidak menanyakan berapa penghasilan yang diperoleh perbulan, melainkan apa yang ia punya untuk dijadikan mahar. Mungkin ia mempunyai cincin besi? Jika tidak, mungkin ada pakaiannya yang lebih? Jika tidak, malah ada yang hanya diajarkan agar membayar maharnya dengan menghafal sebagian surat Alquran.</p>
<p>Apa yang tergambar dari kenyatan tersebut adalah bahwa Rasulullah saw. tidak ingin menjadikan pernikahan sebagai masalah, melainkan sebagai pemecah persoalan. Bahwa pernikahan bukan sebuah beban, melainkan tuntutan fitrah yang harus dipenuhi. Seperti kebutuhan Anda terhadap makan, manusia juga butuh untuk menikah. Memang ada sebagian ulama yang tidak menikah sampai akhir hayatnya seperti yang terkumpul dalam buku Al-ulamaul uzzab alladziina aatsarul ilma ‘alaz zawaj. Tetapi, itu bukan untuk diikuti semua orang. Itu adalah perkecualian. Sebab, Rasulullah saw. pernah melarang seorang sahabatanya yang ingin hanya beribadah tanpa menikah, lalu menegaskan bahwa ia juga beribadah tetapi ia juga menikah. Di sini jelas sekali bagaimana Rasulullah saw. selalu menuntun kita agar berjalan dengan fitrah yang telah Allah bekalkan tanpa merasakan beban sedikit pun.</p>
<p>Memang masalah penghasilan hampir selalu menghantui setiap para jejaka muda maupun tua dalam memasuki wilayah pernikahan. Sebab yang terbayang bagi mereka ketika menikah adalah keharusan membangun rumah, memiliki kendaraan, mendidik anak, dan seterusnya di mana itu semua menuntut biaya yang tidak sedikit. Tetapi kenyataannya telah terbukti dalam sejarah hidup manusia sejak ratusan tahun yang lalu bahwa banyak dari mereka yang menikah sambil mencari nafkah. Artinya, tidak dengan memapankan diri secara ekonomi terlebih dahulu. Dan ternyata mereka bisa hidup dan beranak-pinak. Dengan demikian kemapanan ekonomi bukan persyaratan utama bagi sesorang untuk memasuki dunia pernikahan.</p>
<p>Mengapa? Sebab, ada pintu-pintu rezeki yang Allah sediakan setelah pernikahan. Artinya, untuk meraih jatah rezki tersebut pintu masuknya menikah dulu. Jika tidak, rezki itu tidak akan cair. Inilah pengertian ayat iyyakunu fuqara yughnihimullahu min fadhlihi wallahu waasi’un aliim, jika mereka miskin Allah akan mampukan mereka dengan kurnia-Nya. Dan Allah Maha luas lagi Maha mengetahui (An-Nur: 32). Ini adalah jaminan langsung dari Allah, agar masalah penghasilan tidak dikaitkan dengan pernikahan. Artinya, masalah rezki satu hal dan pernikahan hal yang lain lagi.</p>
<p>Abu Bakar Ash-Shidiq ketika menafsirkan ayat itu berkata, “Taatilah Allah dengan menikah. Allah akan memenuhi janjinya dengan memberimu kekayaan yang cukup.” Al-Qurthubi berkata, “Ini adalah janji Allah untuk memberikan kekayaan bagi mereka yang menikah untuk mencapai ridha Allah, dan menjaga diri dari kemaksiatan.” (lihat Tafsirul Quthubi, Al Jami’ liahkamil Qur’an juz 12 hal. 160, Darul Kutubil Ilmiah, Beirut).</p>
<p>Rasulullah saw. pernah mendorong seorang sahabatnya dengan berkata, “Menikahlah dengan penuh keyakinan kepada Allah dan harapan akan ridhaNya, Allah pasti akan membantu dan memberkahi.” (HR. Thabarni). Dalam hadits lain disebutkan: Tiga hal yang pasti Allah bantu, di antaranya: “Orang menikah untuk menjaga diri dari kemaksiatan.” (HR. Turmudzi dan Nasa’i)</p>
<p>Imam Thawus pernah berkata kepada Ibrahim bin Maysarah, “Menikahlah segera, atau saya akan mengulang perkataan Umar Bin Khattab kepada Abu Zawaid: Tidak ada yang menghalangimu dari pernikahaan kecuali kelemahanmu atau perbuatan maksiat.” (lihat Siyar A’lamun Nubala’ oleh Imam Adz Dzahaby). Ini semua secara makna menguatkan pengertian ayat di atas. Di mana Allah tidak akan pernah membiarkan hamba-Nya yang bertakwa kepada Allah dengan membangun pernikahan.</p>
<p>Persoalannya sekarangan, mengapa banyak orang berkeluarga yang hidup melarat? Kenyataan ini mungkin membuat banyak jejaka berpikir dua kali untuk menikah. Dalam masalah nasib kita tidak bisa mengeneralisir apa yang terjadi pada sebagian orang. Sebab, masing-masing ada garis nasibnya. Kalau itu pertanyaanya, kita juga bisa bertanya: mengapa Anda bertanya demikian? Bagaimana kalau Anda melihat fakta yang lain lagi bahwa banyak orang yang tadinya melarat dan ternyata setelah menikah hidupnya lebih makmur? Dari sini bahwa pernikahan bukan hambatan, dan kemapanan penghasilan bukan sebuah persyaratan utama.</p>
<p>Yang paling penting adalah kesiapan mental dan kesungguhan untuk memikul tanggung jawab tersebut secara maksimal. Saya yakin bahwa setiap perbuatan ada tanggung jawabnya. Berzina pun bukan berarti setelah itu selesai dan bebas tanggungjawab. Melainkan setelah itu ia harus memikul beban berat akibat kemaksiatan dan perzinaan. Kalau tidak harus mengasuh anak zina, ia harus menanggung dosa zina. Keduanya tanggung jawab yang kalau ditimbang-timbang, tidak kalah beratnya dengan tanggung jawab pernikahan.</p>
<p>Bahkan tanggung jawab menikah jauh lebih ringan, karena masing-masing dari suami istri saling melengkapi dan saling menopang. Ditambah lagi bahwa masing-masing ada jatah rezekinya yang Allah sediakan. Tidak jarang seorang suami yang bisa keluar dari kesulitan ekonomi karena jatah rezeki seorang istri. Bahkan ada sebuah rumah tangga yang jatah rezekinya ditopang oleh anaknya. Perhatikan bagaimana keberkahan pernikahan yang tidak hanya saling menopang dalam mentaati Allah, melainkan juga dalam sisi ekonomi.</p>
<p><strong>Pernikahan dan Menuntut Ilmu</strong><strong><br />
</strong><br />
Seorang kawan pernah mengatakan, ia ingin mencari ilmu terlebih dahulu, baru setelah itu menikah. Anehnya, ia tidak habis-habis mencari ilmu. Hampir semua universitas ia cicipi. Usianya sudah begitu lanjut. Bila ditanya kapan menikah, ia menjawab: saya belum selesai mencari ilmu.</p>
<p>Ada sebuah pepatah diucapkan para ulama dalam hal mencari ilmu: lau anffaqta kullaha lan tashila illa ilaa ba’dhiha, seandainya kau infakkan semua usiamu –untuk mencari ilmu–, kau tidak akan mendapatkannya kecuali hanya sebagiannya. Dunia ilmu sangat luas. Seumur hidup kita tidak akan pernah mampu menelusuri semua ilmu. Sementara menikah adalah tuntutan fitrah. Karenanya, tidak ada aturan dalam Islam agar kita mencari ilmu dulu baru setelah itu menikah.</p>
<p>Banyak para ulama yang menikah juga mencari ilmu. Benar, hubungan mencari ilmu di sini sangat berkait erat dengan penghasilan. Tetapi banyak sarjana yang telah menyelesaikan program studinya bahkan ada yang sudah doktor atau profesor, tetapi masih juga pengangguran dan belum mendapatkan pekerjaan. Artinya, menyelesaikan periode studi juga bukan jaminan untuk mendapatkan penghasilan. Sementara pernikahan selalu mendesak tanpa semuanya itu. Di dalam Alquran maupun Sunnah, tidak ada tuntunan keharusan menunda pernikahan demi mencari ilmu atau mencari harta. Bahkan, banyak ayat dan hadits berupa panggilan untuk segera menikah, terlepas apakah kita sedang mencari ilmu atau belum mempunyai penghasilan.</p>
<p>Berbagai pengalaman membuktikan bahwa menikah tidak menghalangi seorang dalam mencari ilmu. Banyak sarjana yang berhasil dalam mencari ilmu sambil menikah. Begitu juga banyak yang gagal. Artinya, semua itu tergantung kemauan orangnya. Bila ia menikah dan tetap berkemauan tinggi untuk mencari ilmu, ia akan berhasil. Sebaliknya, jika setelah menikah kemauannya mencari ilmu melemah, ia gagal. Pada intinya, pernikahan adalah bagian dari kehidupan yang harus juga mendapatkan porsinya. Perjuangan seseorang akan lebih bermakna ketika ia berjuang juga menegakkan rumah tungga yang Islami.</p>
<p>Rasulullah saw. telah memberikan contoh yang sangat mengagumkan dalam masalah pernikahan. Beliau menikah dengan sembilan istri. Padahal beliau secara ekonmi bukan seorang raja atau konglomerat. Tetapi semua itu Rasulullah jalani dengan tenang dan tidak membuat tugas-tugas kerasulannya terbengkalai. Suatu indikasi bahwa pernikahan bukan hal yang harus dipermasalahkan, melainkan harus dipenuhi. Artinya, seorang yang cerdas sebenarnya tidak perlu didorong untuk menikah, sebab Allah telah menciptakan gelora fitrah yang luar biasa dalam dirinya. Dan itu tidak bisa dipungkiri. Masing-masing orang lebih tahu dari orang lain mengenai gelora ini. Dan ia sendiri yang menanggung perih dan kegelisahan gelora ini jika ia terus ditahan-tahan.</p>
<p>Untuk memenuhi tuntutan gelora itu, tidak mesti harus selesai study dulu. Itu bisa ia lakukan sambil berjalan. Kalaupun Anda ingin mengambil langkah seperti para ulama yang tidak menikah (uzzab) demi ilmu, silahkan saja. Tetapi apakah kualitas ilmu Anda benar-benar seperti para ulama itu? Jika tidak, Anda telah rugi dua kali: ilmu tidak maksimal, menikah juga tidak. Bila para ulama uzzab karena saking sibuknya dengan ilmu sampai tidak sempat menikah, apakah Anda telah mencapai kesibukan para ulama itu sehingga Anda tidak ada waktu untuk menikah? Dari sini jika benar-benar ingin ikut jejak ulama uzzab, yang diikuti jangan hanya tidak menikahnya, melainkan tingkat pencapaian ilmunya juga. Agar seimbang.</p>
<p><strong>Kesimpulan</strong><strong><br />
</strong><br />
Sebenarnya pernikahan bukan masalah. Menikah adalah jenjang yang harus dilalui dalam kondisi apapun dan bagaimanapun. Ia adalah sunnatullah yang tidak mungkin diganti dengan cara apapun. Bila Rasulullah menganjurkan agar berpuasa, itu hanyalah solusi sementara, ketika kondisi memang benar-benar tidak memungkinkan. Tetapi dalam kondisi normal, sebenarnya tidak ada alasan yang bisa dijadikan pijakan untuk menunda pernikahan.</p>
<p>Agar pernikahan menjadi solusi alternatif, mari kita pindah dari pengertian “pernikahan sebagai beban” ke “pernikahan sebagai ibadah”. Seperti kita merasa senang menegakkan shalat saat tiba waktunya dan menjalankan puasa saat tiba Ramadhan, kita juga seharusnya merasa senang memasuki dunia pernikahan saat tiba waktunya dengan tanpa beban. Apapun kondisi ekonomi kita, bila keharusan menikah telah tiba “jalani saja dengan jiwa tawakkal kepada Allah”. Sudah terbukti, orang-orang bisa menikah sambil mencari nafkah. Allah tidak akan pernah membiarkan hambaNya yang berjuang di jalanNya untuk membangun rumah tangga sejati.</p>
<p>Perhatikan mereka yang suka berbuat maksiat atau berzina. Mereka begitu berani mengerjakan itu semua padahal perbuatan itu tidak hanya dibenci banyak manusia, melainkan lebih dari itu dibenci Allah. Bahkan Allah mengancam mereka dengan siksaan yang pedih. Melihat kenyataan ini, seharusnya kita lebih berani berlomba menegakkan pernikahan, untuk mengimbangi mereka. Terlebih Allah menjanjikan kekayaan suatu jaminan yang luar biasa bagi mereka yang bertakwa kepada-Nya dengan membangun pernikahan. Wallahu a’lam bishshawab.</p>
<p class="MsoNormal"><a href="void(0)" id="file-link-40" title="merpati.jpg" class="file-link image"> 			 <img src="http://titikbalik.files.wordpress.com/2007/07/merpati.thumbnail.jpg?w=140&#038;h=132" alt="merpati.jpg" height="132" width="140" /></a></p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/titikbalik.wordpress.com/50/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/titikbalik.wordpress.com/50/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/titikbalik.wordpress.com/50/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/titikbalik.wordpress.com/50/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/titikbalik.wordpress.com/50/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/titikbalik.wordpress.com/50/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/titikbalik.wordpress.com/50/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/titikbalik.wordpress.com/50/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/titikbalik.wordpress.com/50/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/titikbalik.wordpress.com/50/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/titikbalik.wordpress.com/50/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/titikbalik.wordpress.com/50/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=titikbalik.wordpress.com&blog=1348603&post=50&subd=titikbalik&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://titikbalik.wordpress.com/2007/07/13/menikah-kenapa-takut-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>8</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/bc2cb95a1de5837de7ebbb19e86e8559?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">ayudansigit</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://titikbalik.files.wordpress.com/2007/07/merpati.thumbnail.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">merpati.jpg</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Cinta Adalah Fitrah Yang Suci</title>
		<link>http://titikbalik.wordpress.com/2007/07/13/cinta-adalah-fitrah-yang-suci/</link>
		<comments>http://titikbalik.wordpress.com/2007/07/13/cinta-adalah-fitrah-yang-suci/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 13 Jul 2007 04:59:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ayudansigit</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pilar-pilar]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://titikbalik.wordpress.com/2007/07/13/cinta-adalah-fitrah-yang-suci/</guid>
		<description><![CDATA[ 
Cinta seorang laki-laki kepada wanita dan cinta wanita kepada laki-laki adalah perasaan yang manusiawi yang bersumber dari fitrah yang diciptakan Allah SWT di dalam jiwa manusia , yaitu kecenderungan kepada lawan jenisnya ketika telah mencapai kematangan pikiran dan fisiknya.“Dan diantara tanda-tanda kekuasaan-Nya adalah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri , supaya kamu cenderung [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=titikbalik.wordpress.com&blog=1348603&post=48&subd=titikbalik&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p align="center"> <a href="http://titikbalik.files.wordpress.com/2007/07/mawar.jpg" title="Direct link to file"><img src="http://titikbalik.files.wordpress.com/2007/07/mawar.thumbnail.jpg?w=84&#038;h=136" alt="mawar.jpg" height="136" width="84" /></a></p>
<p>Cinta seorang laki-laki kepada wanita dan cinta wanita kepada laki-laki adalah perasaan yang manusiawi yang bersumber dari fitrah yang diciptakan Allah SWT di dalam jiwa manusia , yaitu kecenderungan kepada lawan jenisnya ketika telah mencapai kematangan pikiran dan fisiknya.“Dan diantara tanda-tanda kekuasaan-Nya adalah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri , supaya kamu cenderung dan merasa tentram kepadanya , dan dijadikan-Nya diantara kamu rasa kasih sayang .Sesungguhnya pada yang demikian itu benar- benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir (Ar Rum ayat 21)Cinta pada dasarnya adalah bukanlah sesuatu yang kotor , karena kekotoran dan kesucian tergantung dari bingkainya. Ada bingkai yang suci dan halal dan ada bingkai yang kotor dan haram</p>
<p>Cinta mengandung segala makna kasih sayang , keharmonisan , penghargaan dan kerinduan , disamping mengandung persiapan untuk menempuh kehiduapan dikala suka dan duka , lapang dan sempit.</p>
<p>Cinta bukanlah hanya sebuah ketertarikan secara fisik saja. Ketertarikan secara fisik hanyalah permulaan cinta bukan puncaknya.Dan sudah fitrah manusia untuk menyukai keindahan.Tapi disamping keindahan bentuk dan rupa harus disertai keindahan kepribadian dengan akhlak yang baik.</p>
<p><span id="more-48"></span></p>
<p>Islam adalah agama fitrah karena itulah islam tidaklah membelenggu perasaan manusia.Islam tidaklah mengingkari perasaan cinta yang tumbuh pada diri seorang manusia.<br />
Akan tetapi islam mengajarkan pada manusia untuk menjaga perasaan cinta itu dijaga , dirawat dan dilindungi dari segala kehinaan dan apa saja yang mengotorinya.</p>
<p>Islam mebersihkan dan mengarahkan perasaan cinta dan mengajarkan bahwa sebelum dilaksanakan akad nikah harus bersih dari persentuhan yang haram.</p>
<p><strong>PERNIKAHAN TEMPAT BERMUA</strong><strong>RANYA CINTA</strong></p>
<p>“Tidak terlihat diantara dua orang yang saling mencintai (sesuatu yang sangat menyenangkan) seperti pernikahan” (Sunan Ibnu Majah)</p>
<p>Pernikahan dalam islam merupakan sebuah kewajiban bagi yang mampu.Dan bagi insan manusia yang saling menyintai pernikahan seharusnyalah menjadi tujuan utama mereka.</p>
<p>Karena itulah percintaan yang tidak mengarah kepada pernikahan bahkan disertai hal-hal yang diharamkan agama sangat tidak disarankan oleh islam.Cinta dalam pandangan islam bukanlah hanya sebuah ketertarikan secara fisik , dan bukan pula pembenaran terhadap perilaku yang dilarang agama.Karena hal ini bukanlah cinta melainkan sebuah lompatan birahi yang besar saja yang akan segera pupus.Karena itu cinta memerlukan kematangan dan kedewasaan untuk membahagiakan pasangannya bukan menyengsarakannya dan bukan juga menjerumuskannya ke jurang maksiat.</p>
<p>Percintaan tanpa didasarkan oleh tujuan hendak menikah adalah sebuah perbuatan maksiat yang diharamkan oleh agama.Karena batas antara cinta dan nafsu birahi pada dua orang manusia yang saling menyintai sangatlah tipis sehingga pernikahan adalah sebuah obat yang sangat tepat untuk mengobatinya.</p>
<p>Pernikahan adalah sebuah perjanjian suci yang menjadikan Allah SWT sebagai pemersatunya. Dan tidak ada yang melebihi ikatan ini.Dan inilah puncak segala kenikmatan cinta itu dimana kedua orang yang saling menyinta itu memilih untuk hidup bersama dan saling berjanji untuk saling mengasihi dan berbagi hidup baik suka maupun duka.</p>
<p>sumber : sakinah<br />
<a href="http://titikbalik.files.wordpress.com/2007/07/mawar.jpg" title="Direct link to file"><br />
</a></p>
<p class="MsoNormal">&nbsp;</p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/titikbalik.wordpress.com/48/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/titikbalik.wordpress.com/48/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/titikbalik.wordpress.com/48/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/titikbalik.wordpress.com/48/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/titikbalik.wordpress.com/48/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/titikbalik.wordpress.com/48/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/titikbalik.wordpress.com/48/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/titikbalik.wordpress.com/48/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/titikbalik.wordpress.com/48/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/titikbalik.wordpress.com/48/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/titikbalik.wordpress.com/48/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/titikbalik.wordpress.com/48/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=titikbalik.wordpress.com&blog=1348603&post=48&subd=titikbalik&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://titikbalik.wordpress.com/2007/07/13/cinta-adalah-fitrah-yang-suci/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/bc2cb95a1de5837de7ebbb19e86e8559?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">ayudansigit</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://titikbalik.files.wordpress.com/2007/07/mawar.thumbnail.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">mawar.jpg</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>